Bilamana kekerasan dilawan dengan kekerasan, maka sama saja mengadu batu dengan batu.

Keduanya akan habis musnah! Keduanya akan hancur!

“Yang menang jadi bara (orang), yang kalah jadi abu”

Begitulah gambarannya jika dalam dua kubu, sama2 keras dan menyerang dengan kekerasan. Batu dengan batu, jeder..!! Benturan pun tak bisa dihindari.

Kalah..? Ia akan hancur karena wujud nya yang terpecah belah.

Menang..? Iapun akan hancur karena dirinya termakan ‘bara’ nafsu keserakahan yang merenggut jiwanya.

Jika kekerasan dihantam dengan kelembutan..?

Oh, lihat saja.

Batu besar yang keras pun, bisa hancur karena lembut tetesan air. Namun, apakah batu biaa menghancurkan air..? .

Oh, lihat saja.

Besi yang begitu keras, bisa hancur termakan karat dikarnakan lembutnya udara yang bahkan kadang tak terasa. Namun, apakah besi bisa menghancurkan udara..?

Ini yang perlu difahami oleh kita semua sebagai ummat islam.

Jangan mau diperalat sebagai dua batu yang saling berbenturan.

“Di benturkan..!”. Kita ini satu, Tuhan kita satu, walau memang terkadang ada perbedaan, memang disitulah sunnatullah yang sudah ditetapkan.

Jangan mau diperalat menjadi dua batu yang berbenturan, sedang-kan ‘mereka’ yang anti islam sesungguhnya dengan pongahnya menjadi air dan udara, menghancurkan tanpa rasa. Lembut dan menawarkan senyuman, tapi sebenarnya itu mematikan.

Mereka tertawa dan berbisik kepada sekutu di sebelahnya,

“Ternyata Ummat Islam sangat mudah diadu domba”

Allahu Rabb, na’udzubuka tsumma na’udzubuka. .

Singkatnya..

Yap, benar sekali pemikiran buya hamka dari sekitar 70 tahun yg lalu. Dan nyatanya saat ini terjadi.
#sekedarkutipan #inyonksantri #islam #islamnusantara #damai #respect #kehendak #nafsu #opini #sabdaperubahan