Assalamu’alaikum.

Izinkan saya untuk membahas perihal pertanyaan yang kerap kali disampaikan oleh banyak rekan, sahabat dan kerabatku terkait dengan pencantuman embel-embel 7779 yang saya gabung setelah nama ardan, di hampir setiap akun sosial maupun bisnis termasuk personal blog ini.

Apa sebenarnya makna 7779..?

Sebelumnya, saya sudah membahas autobiografi di  Secercak Tinta Tentangku. Merupakan seorang yang pernah mengenyam pendidikan pesantren dan Madrasah Tsanawiyah di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran yang bertempat di Ngaglik, Sleman, Jogjakarta. Dan artikel disini saya tulis berdasarkan apa yang saya dapat dari rekan, sahabat, dan sumber lain.

Singkat cerita, disana saya mengenyam pendidikan pesantren dan Madrasah Tsanawiyah. Dan ada beberapa versi yang saya dapat terkait dengan 7779 ini.

Berawal dari cerita gang di area pondok yang sejak dulu diberi nama Gang 7779, ada juga yang menyebutkan bahwa berasal dari plat nomer Yai yang bernomer 7779, juga ada yang menganggap bahwa 7779 merupakan slogan yang lazim dipakai dikalangan Pondok.

7779 Dibaca dengan bahasa jawa, means: Pitu Pitu Pitu Songo, yang berarti Pitutur, Pitulung, Pituduh, Manut Wali Songo. Lalu apa makna dari semua itu..?

Pututur

Kita sebagai manusia yang hidup didunia harus bisa mengendalikan Pitutur kita, Omongan kita dalam kehidupan sehari-hari, dalam bermuamalah dengan manusia lain. Menjaga Pitutur dari perbuatan yang dilarang dalam syareat. Berbohong, mencaci, ghibah, dan maksiat lisan lainnya yang bisa mengundang dosa. Selain itu, kita juga harus bisa untuk menyebarkan Pitutur yang baik.

Dalam Al Qur’an Al Kariim, Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًايُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَمَن يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا  

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu sekalian kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki amalan-amalanmu dan mengampuni dosa-dosamu. Barangsiapa mentaati Allah dan RasulNya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenengan yang besar” [Al-Ahzab : 70-71]

Rosulullah SAW juga menyampaikan Khabar, dalam kitab Shahih Al-Bukhari no. 6475 dan Shahih Muslim no. 74 meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda.

وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ  

“Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata yang baik atau diam”

Sedikit Cuplikan Ayat dan hadits diatas setidaknya menyadarkan kita bahwa pentingnya menjaga pitutur dalam setiap aktifitas kita, dalam kehidupan sehari-hari kita.

Pitulung

Manusia sebagai makhluk sosial, yang tidak luput dari ‘memerlukan’ manusia yang lainnya dituntut untuk selalu berinteraksi dengan baik antar sesama. Tidak terpaku kaku dengan perbedaan yang ada, karena semua itu adalah sunnatullah yang mesti kita terima.

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْناكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثى وَجَعَلْناكُمْ شُعُوباً وَقَبائِلَ لِتَعارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ  

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal”. (Qs. al-Hujurat: 13)

Maka dari itu, sesama manusia harus saling tolong menolong, membudayakan pitulung kepada sesama agar terjalin hubungan yang harmonis dan tidak semena-mena.

Pituduh

Manusia sebagai hamba yang banyak sekali kekurangannya, terlebih dalam hal ruhani yang sering lupa akan tugas utama untuk beribadah kepada Sang Pencipta, harus saling mengingatkan antar sesama.

Dewasa ini, sudah begitu banyak media yang bisa dimanfaatkan untuk saling berbagi pituduh kepada jalan kebenaran. Ajakan berhijrah menjadi lebih baik, dan saling memperbaiki kualitas taqwa.

Allah Ta’ala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.” (QS. Ali Imron: 110)

Maka, marilah kita saling mengingatkan, memberi pituduh ke jalan kebaikan. Toh, sudah begitu banyak media yang bisa kita manfaatkan.

Manut Wali Songo

Saya sendiri, mungkin juga termasuk anda, adalah berkebangsaan Indonesia yang berdarah Jawa. Aku Wong Jowo, Kowe Kate Lapo, eeh–.

Tanah jawa dengan populasi mayoritas beragama Islam, tak bisa dipisahkan dengan jasa para waliyullah, terutama yang berjumlah 9 a.k.a Wali Songo, yang telah menyebarkan agama Rahmat ini dengan penuh kedamaian sehingga bisa diterima oleh masyarakat luas. Mungkin, tanpa adanya wali songo, tanah jawa ini bahkan Negeri Indonesia tidak akan bisa menjadi salah satu populasi manusia beragama Islam terbesar di dunia.

Berdakwah dengan lembut, menyentuh hati dengan hati, bukan dengan emosi. Yash, begitulah wali songo dalam berdakwah. Tak ada paksaan, hinaan, cacian, apalagi kedzaliman terhadap masyarakat dari etnis lain (kala itu tanah jawa mayoritas hindu dan budha), karena begitu pulalah yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhammad SAW.

Oleh karena itu, kita sebagai generasi penerus harus bisa Manut Wali Songo, menjalankan nasihat dan ajaran yang mereka tinggalkan. Menjadikan mereka sebagai suri tauladan kita dalam hidup keseharian.


Mungkin itu sedikit perihal makna 7779, paling tidak menurut apa yang saya fahami selama ini. Mungkin ada versi lain, makna lain, Tapi pastilah menuju kepada sebuah nasehat yang bisa kita ikat dalam bermuamalat. Semoga artikel singkat ini bisa bermanfaat.

 

Jangan sungkan bila ada komentar / saran kritik bagi saya. Silahkan tinggalkan di kolom komentar.

Salam Hangat, ardan7779.