Awal bulan februari yang hampir setiap hari didampingi dengan derasnya hujan, membuat sebagian orang merasa kedinginan atau bahkan ada yang sampai mager (Males Gerak) dan memilih untuk hanya sekedar tidur mlungker di atas kasur. Semalas-malasnya sahabat, Saya harap tulisan ini dibaca hingga akhir.

Terlepas dari dinginnya suasana, ada pembahasan hangat mengenai hari di pertengahan februari yang dianggap sakral bagi segelintir orang. Ya, itulah hari Valentine yang jatuh tepat pada tanggal 14 februari setiap tahunnya.

Hari Valentine, yang muncul ketika bangsa romawi merayakan hari besar yang mereka anggap sebagai upacara pensucian yang bernama lupercalia pada tanggal 13-18 Februari. Namun, setelah agama Kristen dan katolik menjadi agama di Negara Roma, penguasa Romawi dan para tokoh agama katolik Roma mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor.

Dari penjelasan diatas, kita dapatkan bahwasanya Hari Valentine tidak ada sangkut pautnya sama sekali dengan agama Islam. Bahkan merupakan ritual yang lahir dari upacara bangsa romawi yang penuh dengan paganisme dan kesyirikan.

Sudah begitu banyak artikel yang memaparkan bahwasanya ummat islam tidak sepantasnya ikut merayakan Valentine. Setidaknya ada beberapa alasan, diantaranya :

  1. Allah SWT Berfirman :

[3:85] Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.

  1. Sabda Nabi Muhammad SAW :

Dari Ibnu ‘Umar, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda yang artinya :

“Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Ahmad 2: 50 dan Abu Daud no. 4031).

Dari Wahyu dan Hadis diatas, jelas bahwasanya ummat islam sangat tidak dianjurkan untuk meniru budaya kaum kafir, apalagi seperti perayaan hari valentine yang notabenya berasal dari kegiatan upacara kekufuran.

Sudah banyak beredar artikel bahkan quotes yang menerangkan haramnya perayaan valentine bagi ummat islam, seperti “Saya Muslim, katakana tidak pada Valentine” atau sering dijupai dalam bahasa inggris “I’m Muslim, Say No Valentine Day”.

Dalam islam memang sangat menjunjung tinggi nilai toleransi dalam hidup beragama. Namun, perlu ditegaskan bahwa toleransi yang dimaksud adalah dalam hal berinteraksi dan bermuamalah, BUKAN dalam hal ikut merayakan perayaan agama lain, ataupun ikut campur dalam peribadatan mereka.

Oleh karena itu, kita sebagai ummat Islam harus bersikap cerdas dalam menanggapi hari valentine tersebut. Bersikap cedas dengan tidak ikut merayakannya, namun juga bersikap cerdas dengan tidak menebar kebencian atau tindakan apapun yang bisa merendahkan Ummat Islam itu sendiri.

 

 

Salam hangat, ardan7779.