Assalamu’alaikum.. sobat semua. ๐Ÿ™‚

Postingan kali ini, saya akan membahas sedikit mengenai fenomena pacaran yang mungkin zaman sekarang sudah seakan dianggap biasa oleh kawula muda, bahkan ada yang menganggap bahwa berpacaran itu sebua kebanggaan dalam menjalankan masa remaja.

Mungkin akan ada pro kontra dengan postingan saya kali ini, karena memang ini hanyalah pendapat penulis yang ingin saya bagikan kepada pembaca, dan semoga bisa bermanfaat.

Mesranya dosa, Habisin uang orangtua

nah, mungkin sedikit frontal bila dibaca, apalagi bagi yang sedang membaca merpakan pelaku atau pernah menjadi peran utama dalam berpacaran.

Berpacaran, Mesranya dosa — Nah, Sudah mafhum bahwa berpacaran “katanya” merupakan kegiatan yang mengatas namakan Cinta, yang menyatukan insan laki-laki dan perempuan, namun diluar pertalian akad yang sah dari hukum negara apalagi hukum Agama Islam, yang hanya akan membawa keduanya kelubang dosa.

โ€œDan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalahย suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.โ€ย (Q.S. Al-Isra ayat 32)

Al Qur’an dengan tegas telah melarang untuk mendekati perbuatan zina, karena itu suatu perbuatan keji. Memang, tidak secara tekstual kata pacaran dipapaskan dalam ayat tersebut. Namun, perlu diingat..! Bahwa sebagian kasus perzinaan diawali dengan berpacaran, yang berakhir pada penyesalan.

Dalam berpacaran yang jelas belum ada akad pernikahan yang sah, CINTA yang suci akan ternodai dengan kemesraan yang hanya berujung pada dosa. Yaa..! Tambah Mesranya, Tambah Dosanya. Berbeda jika CINTA itu disalurkan dalam akad pernikahan yang sah, maka Tambah mesra akan semakin berpahala.

Berpacaran, Habisin uang orangtua — Nah, yang satu ini urusannya bukan masalah agama, namun dalam hal financial. Kebanyakan anak muda yang berpacaran, mereka masih ibarat bau kencur, atau hanya seorang remaja yang masih belum bekerja dan hanya meminta uang kepada orang tuanya.

Sudah banyak kasus yang menyatakan, bahwa orang yang berpacaran selalu ingin berpenampilan menarik didepan pasangannya. Berpenampilan rapi, keren, gagah, cantik, dll. Mereka ingin tampil sebagai manusia paling sempurna ketika dihadapan pasangan “ilegal” nya, yang tentu membutuhkan biaya untuk memenuhi itu semua. Dan, darimana lagi, kalau biaya itu bukan dari orang tua, sedangkan dia belum bekerja..?

Usaha orang tua untuk emcari nafkah guna menghidupi keluarga, lalu dibuang-buang untuk kepentingan yang tidak penting, bahkan berdosa..? Sungguh sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji.

Memang, dalam islam sangat dianjurkan untuk berta’aruf ketika hendak mencari pasangan hidup yang sah. Namun, Berta’aruf dan Berpacaran itu sangat berbeda jauuh.

Dalam berta’aruf, tidak ada kontak fisik ataupun pegang tanganlah, pegang mukalah, atau apapun (silahkan lanjutkan sendiri ke level yg lebih extrim) yang mungkin kerap dilakukan oleh para pelaku pacaran.

Dalam berta’aruf, harus disertai dengan saudara atau kawan satu makhrom, tidak berduaan atau bahkan jalan-jalan yang kerap mengundang setan dalam menghasut ke lubang dosa bahkan perzinaan.

Dalam berta’aruf, harus memang berniat untuk mencari pasangan hidup yang sah dengan jalur pernikahan. Bukan ingin mencari kenikmatan sesaat.

CINTA itu suci dan mulia.. Jangan kau nodai dengan berpacaran yang penuh dosa.

Alhamdulilah, Berbahagialah bagi anda yang tidak terjebak dalam lika-liku pacaran.

 

Jaga diri, jaga hati.. Sampai waktu yang indah itu menghampiri..

dengan penuh Cinta, Sebenar-benarnya cinta..

Dengan jalan yang diridloi, Insyaallah bahagia hingga akherat nanti.

 

salam hangat, ardan7779.