Sebuah kisah, sekitar tahun 90-an, ketika ada seorang jejaka tampan bernama Tholchatusyarif yang hatinya terikat oleh seorang gadis desa yang baik nan cantik bernama I’anatul Khoiriyah. Mereka berdua saling mencintai dan menyayangi dan pernikahanpun menjadi saksi keseriusan hubungan mereka.

Ketika pernikahan belum berlalu begitu lama, keluarga muda yang bersatu dengan kedahsyatan kekuatan cinta, bersatu dibawah sumpah kesetiaan, dan menjalin hubungan yang halal dan begitu suci, mendapat titipan dari Allah SWT sebuah amanat berupa makhluq paling sempurna, yaitu manusia, untuk mereka jaga, untuk mereka rawat dengan rasa tanggung jawab dan penuh kasih sayang.

Tepat pada tahun 1996 tanggal 18 April, di Kabupaten Banyumas, lahirlah aku sebagai seorang bayi laki-laki normal yang mereka sambut dengan kegembiraan dan penuh rasa syukur. Kemudian, mereka berdua beserta keluarga sepakat untuk menamaiku dengan nama yang penuh makna, yaitu M. SYAUQI HANIF ARDANI. Dan dari sinilah kisah biografi ini dimulai.

Aku memulai mengukir kehidupan di duniaku bersama sebuah keluarga yang sangat mencintaiku. Sejak kecil, aku dirawat dan dididik dengan penuh perhatian oleh kedua orangtuaku, sehingga aku bisa tumbuh besar seimbang dengan baik.

Ketika berumur tiga tahun, aku mulai mengaji Al Qur’an bersama ayahku. Kemudian, diusa 4 tahun, aku mulai menginjak dunia pendidikan formal di TK Diponegoro 60 yang berada tidak jauh dari rumahku. Setelah sekitar 2 tahun belajar di TK, ketika berumur 6 tahun aku berhasil diwisuda dengan memperoleh predikat baik.

Aku tinggal bersama kedua orang tuaku yang berada di Rt. 04/ Rw. 01, Desa Kedungbanteng, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, lingkungan yang masih asri dan cukup dekat dengan Gunung Slamet serta tidak jauh dari rel kereta api yang selalu ramai dilalui.

Masa kecilku berjalan layaknya anak-anak pada umumnya. Aku bermain dan belajar bersama teman-teman sebaya. Berbagai macam permainan tradisional, seperti gobak, kelereng, barlen, aku mainkan bersama teman-teman. Aku juga sempat berlari-laraian yang membuat tangan kananku cidera dan baru bisa sembuh setelah sekitar 7 hari.

Pada umur 6 tahun, aku mulai menikmati jenjang pendidikan sekolah dasar di SDN 03 Kedungbanteng yang berjarak tidak jauh dari rumahku. Setaiap hari aku berangkat sekolah bersama teman-teman dengan berjalan kaki sekitar 5 menit. Terkadang aku juga diantar naik Vespa jadul oleh kakekku yang mengajar di Madrasah Ibtidaiyyah terletak sejalur dengan dimana aku sekolah.

Ketika menikmati masa di sekolah dasar, Aku sering ditunjuk sebagai perwakilan sekolah dalam berbagai perlombaan seperti Macapat (tembang jawa), Siswa Teladan, Menyanyi lagu daerah dan kebangsaan, dan jamboree pramuka. Dan dari lomba-lomba itu, ada yang berhasil menuai prestasi. Aku juga sering mendapat amanat, ditunjuk oleh teman-temanku.sebagai ketua kelas.

Baca Juga  Doa dalam Al Qur'an, Al Kahfi ayat 10 serta keutamaannya.

Singkat waktu, masa-masa di SD berakhir pada UASBN dan perpisahan kelas 6. Aku sempat bingung kemana aku akan melanjutkan jenjang pendidikan, yang pasti harus berbasis kepesantrenan. Dengan kesepakatan keluarga disertai istikhoroh, akupun melanjutkan ke sekolah luarnegri (baca=swasta) berbasis pesantren di daerah Jogjakarta.

Masa SLTP aku nikmati di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran (PPSPA) yang terletak di Jalan Kaliurang Km. 12,5 Kec. Ngaglik, Sleman, Yogyakarta, Sebuah yayasan pendidikan pesantren yang didirikan oleh Al Maghfurlah KH. Mufid Mas’ud (Keturunan ke 17 Sunan Pandan Aran/ Krapyak) dan diasuh oleh salah satu putra beliau, KH. Mu’tashimbillah.

Aku masuk PPSPA pada bulan juni 2008 dan ketika pendaftaran, aku didampingi oleh keluarga. Disaat itu, ketika keluargaku mulai meninggalkanku di pesantren itu, aku mulai merasakan hiruk pikuk kehidupan ala pesantren, yang serba mandiri disertai dengan padatnya jadwal mengaji. Akupun berusaha keras untuk bisa beradaptasi.

Dua bulan pertama masa pesantren aku jalani dengan penuh semangat dan senang hati, mendapat teman santri baru yang datang dari berbagai penjuru untuk bersama-sama menuntut ilmu. Akupun mendapat didikan dan ilmu pengetahuan dari lingkungan baruku.

Namun, diawal asyiknya nyantri, hatiku sempat digoncangkan dengan kabar meninggalnya buyut terakhir dan saudara dekatku. Entah mengapa, setelah mendengar kabar itu, aku menjadi tak betah dan meminta boyong saja, keluar dari pesantren itu dan melanjutkan study di rumah saja.Tentusaja, orangtua dan keluargakupun menasehatiku untuk tetap bertahan di lautan ilmu itu. Berkat dukungan keras dan banyak nasehat dari saudara, akupun kembali semangat menjadi anggota kaum sarungan di Pondok Pesantren Sunan Pandan Aran.

“Kelas satu kalem, kelas dua nakal, kelas tiga taubat”. Mungkin pepatah ngawur ini juga sempat menjangkitiku. Kelika kelas satu, memang aku masih kalem, tak tau apa-apa, seperti anak kecil yang digiring kemana saja manut. Aku masih sangat menaati semua peraturan pondok, walaupun peraturan yang sangat sepele.

Namun, menginjak kelas dua, mulai banyak godaan nakal dari syetan wujud jin dan manusia. Aku mulai menghalalkan keluar pondok tanpa izin untuk sekedar beli buku, makan di luar, bahkan bermain internet dan PSan yang itu termasuk pelanggaran berat.

Kegiatan illegal itu terjadi hingga beberapa kali dan semua kasus itu terlihat bersih, tidak pernah ketahuan pengurus satu kalipun. Tapi, akhirnya ada hidayah dari Allah SWT yang menghampiriku, menasehatiku, dan membuat aku sadar bahwa kasus itu sungguh tidak baik. Aku mulai berfikir dewasa dan nalar dan aku berusaha untuk menjadi santri sejati, mencari ilmu untuk kepentingan umat islam nanti.

Baca Juga  Apakah Pantas ?

Ketika awal kelas tiga, aku mulai bertekad tidak akan membuat keluargaku kecewa. Aku insaf, aku bertaubat dari berbagai pelanggaran yang dulu aku lakukan. Aku mulai benar-benar serius dalam pencarian ilmu, baik kepesantrenan maupun ilmu-ilmu formal. Kedua ilmu itu aku geluti dengan cukup serius, sebisa yang aku mampu.

Dimasa akhir kelas tiga MTs, aku beserta teman-teman bersiap-siap menghadapi Ujian Nasional (UN) 2011. Berbagai upaya dilakukan untuk menyongsong UN tersebut. Dan pada akhirnya, aku seangkatan bias lulus 100% dengan nilai yang cukup bagus. Dan atas izin Allah SWT, aku bias meraih peringkat pertama parallel nilai UN dari 215 siswa di sekolah.

Ketika libur pasca UN, aku menyempatkan diri bertandang ke Pare, Kediri yang biasa disebut sebagai “Kampoeng Inggris” untuk sekedar memperdalam ilmu bahasa inggris dan sekaligus nyambi liburan. Aku beserta sebagian teman-teman mengikuti kursus di lembaga yang bernama GENTA (Golden English Training Area). Kami mengikuti kursus hanya dalam waktu 1 bulan, dan karena dibarengi niat liburan, hasil yang kudapat kurang maksimal.

Ketika aku hendak melanjutkan jenjang pendidikanku ke tingkat SLTA, aku bersama keluarga berunding, dimana seharusnya aku harus mondok. Setelah Istikharah, Kami sekeluarga sepakat dimanapun aku melanjutkan, harus mondok lagi dibarengi dengan sekolah. Akhirnya, sebuah pondok pesantren terbesar di Jawa Tengahpun menjadi pilihan kami.

Pondok Pesantren Al Hikmah 2 yang terletak di Desa Benda, Kecamatan Sirampog, Kabupaten Brebes, yang didirikan oleh Syekh Kholil bin Mahali dan Syekh Suheimi bin Abdul Ghoni dan diasuh oleh KH. Masruri Abdul Mughni. Disinilah aku melanjutkan perjuanganku menjadi santri untuk menuntut ilmu, mengemban tugas mulia demi kepentingan umat di kemudian masa. Dan dari sekian banyak lembaga formal yang berada disana, Madrasah Aliyah Al Hikmah 2 (malhikdua) menjadi pilihanku dalam pencarian ilmu-ilmu umum.

Pada awalnya, aku direkomendasikan oleh orangtuaku untuk masuk MAK. Namun aku lebih tertarik untuk menggeluti ilmu-ilmu sains, ilmu-ilmu alam, yang merupakan pelajaran paling disukai sejak aku SD. Aku meminta ridho kepada orangtua agar aku masuk emercy yang merupakan kelas IPA unggulan di malhikdua school. Dengan kekuatan istikharah, akupun diridhoi oleh orangtuaku dan akhirnya ia diterima di Emercy dengan melalui beberapa tes.

Berbeda dengan aku ketika masa-masa MTs yang tak pernah kenal dengan yang namanya Organisasi, ketika di Al Hikmah 2, aku diamanati berbagai macam organisasi pondok maupun sekolah. Mulai dari ORDA, OSIS, FED, GALAXI, Al Hikmah Sholawat, Majalah El Waha, alhikmahdua.net, bahkan pengurus pondok. Entah mengapa, banyak orang yang mempercayaiku untuk mengambil peran-peran penting dalam berbagai organisasi, mengemban amanat. Tentu aku berusaha untuk tidak mengecewakan kepercayaan orang kepadaku. Aku kerjakan amanat-amanat itu sekuat, semampu yang aku bisa.

Baca Juga  Fenomena sang Pencari Ilmu

Bergelut di berbagai macam organisasi tentu menyita waktu yang tidak sedikit. Aku bahkan pernah mengalami penurunan prestasi di sekolah ketika kelas dua aliyah, sebuah penurunan yang sangat terasa dampaknya. Aku bahkan sempai terancam turun ke kelas regular dikarnakan turunnya nilai yang signifikan. Ngantukan, cepat capek, dll sering aku rasakan di kelas dua dan awal kelas tiga yang membuat sebagian guru berfikir negative kepadaku.

Aku sudah melakukan berbagai upaya agar prestasiku tidak terus turun, agar tidak ngantukan, agar bisa belajar di kelas Emercy dengan semangat. Tapi apa daya, aku hanya melakukan apa yang aku bisa, dan Alhamdulillah, keberadaanku di kelas emercy bertahan sampai aku mengnjakkan kakiku di masa kelas tiga, masih di kelas IPA unggulan malhikdua.

Di tengah-tengah masa kelas tiga, aku berusaha untuk mengurangi keasyikanku dalam berorganisasi. Aku harus lebih focus mempersiapkan berbagai ujian akhir yang harus kulalui sebentar lagi. Ujian Pondok, Ujian Sekolah Bahkan Ujian Nasional membuatku lebih terpacu untuk terus menuntut ilmu di masa-masa akhir aku mesantren di Al Hikmah 2 ini.

Memang, sekarang (4 April 2014) aku sedang berada di penghujung masa sekolahku di tingkat SLTA. Ibarat nelayan yang melaut seharian dan bersiap pulang di sore hari dengan membawa ikan hasil tangkapan, akupun sedang berada di akhir pencarian ilmuku di tingkat SLTA. Walaupun memang, ilmu yang ku dapat di Pon Pes Al Hikmah ini belum begitu banyak, semoga itu semua bisa bermanfaat bagiku dan ummat, mencegah bila hendak terjerumus ke hal yang bathil, dan terus menuntun menuju kepada kebaikan, membawa hidup selamat dan berbahagia di dunia dan akherat.

Sekarang, aku tinggal berhadapan dengan Ujian Nasional dan Ujian Pondok. 2 hal penting itu sebagai penentu nasib pendidikanku, akankah aku berhak menuju jenjang pendidikan yang lebih tinggi (kuliah)?. Aku hanya bisa berusaha dan berdoa dan aku juga meminta kucuran doa dari semua pembaca artikel ini, agar itu semua bisa berjalan dengan lancar, bisa lulus dengan nilai bagus dan bisa kuliah di Universitas Favorit dan Jurusan favorit.

Terimakasih kepada pembaca, semoga artikel autobiografi ini bisa bermanfat untuk kita semua. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT semata, maka maafkanlah bila ada tulisan yang kurang baik. Kritik dan saran pembaca sangat bermanfaat bagi saya sebagai penulis.

Sekian dan Terimakasih

 


Salam Hangat, ardan7779.