Logika Sepasang Sepatu

Izinkan sepasang sepatu berbicara. Menilik sedikit makna yang ada didalamnya, dan mencoba memunculkan sebuah perumpamaan yang mungkin kurang setara tapi bisa saja sesuai dengan pandangan anda.

Sepasang Sepatu

Tak pernah tau, kenapa mereka berdua ditakdirkan bertemu. Mungkin karena kebetulan atau bahkan tak pernah diharapkan. Namun nyatanya, sekarang mereka berdampingan.

Sepasang Sepatu

Ada dan layak guna karena bersama, sepasang, kanan dan kiri. Saling melengkapi dan berkolaborasi. Engkau dahulu maju, aku menyusulmu nanti. Namun keduanya tak pernah saling menghakimi apalagi mencaci.

Sepasang Sepatu

Mereka saling mengisi kekurangan. Jika yang satu rusak dan tak mungkin digunakan, maka mereka kompak untuk dibebas tugaskan. Tak ada yang memaksa untuk digunakan satu sisi untuk kemudian sisi lain ditinggalkan.

Sepasang Sepatu

Mereka berdua sadar, bahwa tujuan mereka itu hanya sebatas untuk bersama, berdampingan, namun tidak untuk dipersatukan.

 

Begitulah Sepasang Sepatu

Selalu ada cerita setiap langkah yang dituju.

 


Jagad Raya, 27/07/2018.

Apa Itu Cinta ?

Cinta…

Adalah ‘Ali, ketika dia berbaring tidur menggantikan Rasulullah Saw di kasur Nabi, padahal dia tahu bahwa sekelompok orang telah berkumpul untuk membunuh Rasulullah Saw, dia juga tahu bahwa dia mungkin saja tewas di kasur yang sama!!

Cinta…

Adalah Bilal, ketika dia tidak lagi mengumandangkan azan setelah Rasulullah Saw wafat, lalu ketika Bilal mengumandangkan azan lagi atas permintaan ‘Umar saat penaklukan Baitul Maqdis. tidak pernah tangisan begitu membahana terlihat sebelumnya, saat Bilal mengucapkan “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullaah”.

Cinta…

Adalah Abu Bakar yang mengatakan: “saat kami berhijrah, aku heran dengan munculnya susu yang tercampur air, lalu aku berikan susu tersebut kepada Rasulullah, dan aku katakan: “Minumlah wahai Rasulullah”
Abu Bakar mengatakan: “Maka Rasulullah pun minum sehingga hilanglah dahagaku” (Rasulullah yang minum, Abu Bakar yang hilang dahaganya).

Cinta…

Adalah Zubair yang mendengar kabar terbunuhnya Rasulullah, lalu dia pun keluar dengan menyeret pedangnya di jalan-jalan kota Makkah, padahal usianya baru 15 tahun. Agar pedangnya menjadi pedang pertama yang terhunus dalam sejarah Islam.

Cinta…

Adalah Rabi’ah bin Ka’b saat Rasulullah Saw bertanya kepadanya “apa yang kamu butuhkan?” Rabi’ah pun menjawab: “aku meminta agar aku bisa mendampingimu di surga”.

Cinta…

Adalah Tsauban ketika Rasulullah Saw bertanya kepadanya: “Apa yang membuat warna (wajahmu) berubah?” lalu Tsauban menjawab: “aku tidak sakit dan terluka, hanya saja jika aku tidak melihatmu aku menjadi sangat merindu kesepian sampai aku bertemu denganmu”.

Cinta…

Adalah ketika Abu Bakar As-Shiddiq berkata kepada Rasulullah Saw sebelum memasuki gua (Tsur): “Demi Allah, janganlah engkau masuk sampai aku masuk terlebih dahulu, jika ada sesuatu di dalam gua ini maka akulah yang terkena bukan engkau”.
.

Cinta…

Adalah Abu Bakar yang menangisi Rasulullah Saw ketika tampak tanda-tanda telah dekat kewafatannya, lalu Rasulullah menenangkannya: “Janganlah kamu menangis! Jika saja aku boleh menjadikan seseorang kekasih dari golongan manusia, aku pasti menjadikan Abu Bakar kekasihku.

Lalu, jika anda mengaku sedang merasakan cinta, cinta yang seperti apa..?

 

Adapted From saifurrachman20

Jangan Nistakan Makna Cinta

Bicara mengenai cinta memang tidak ada habisnya. Dari dulu hingga zaman modern ini hampir semua manusia dewasa bahkan masih anak-anak, yang familiar dengan sebutan kids zaman now, tertarik untuk membahas hal yang satu ini yang bisa dibuktikan dengan adanya berbagai macam, tak terhitung jumlahnya lagu-lagu cinta mulai dari yang model dangdut, koplo, rock, pop, Arabic. Lagu cinta bertebaran dimana-mana. Tak hanya lagu, berbagai macam film, opera, puisi bernuansa cinta tak terhitung jumlahnya.

Dalam islam juga dijelaskan bagaimana cinta itu sangat mulia dan merupakan anugrah yang diberikan oleh Allah SWT kepada hambanya. Anugrah yang sangat indah.

Namun, zaman semakin tua, kemulyaan makna cinta semakin lama semakin ternodai oleh oknum-oknum manusia yang tidak bertanggung jawab. Sebut saja mereka anak muda yang terlena bujukan syetan yang mengatas namakan cinta.

Wahai manusia. Ketahuilah, makna cinta itu sangat suci, cinta itu bersih, cinta itu tinggi. Tanpa cinta, Dunia tidak akan seindah ini, kau juga tidak akan bisa lahir dan besar tanpa cinta. Maka, jangan sekali-kali kau coba untuk menodainya, jangan kau terlena oleh bujukan syetan yang akhirnya menodai sucinya cinta.
Sekali lagi, jangan nistakan makna cinta.

Jangan mengatas namakan cinta, bila hanya akan membuang waktu dengan menelpon berlebihan kepada pasangan gelap yang bahkan bisa menggusur tugas utamamu hidup didunia, yaitu beribadah kepada Allah SWT.

Jangan mengatas namakan cinta, bila hanya sebagai penyalur rasa nafsu ganas yang membara pada dirimu dengan menghalalkan pacaran, kholwat, dll, yang bisa menjadikan pintu zina terbuka dengan lebar dan kau akan terjerembab didalam jurang dosa dan penyesalan yang sangat mendalam.

Jangan mengatas namakan cinta, bila hanya akan membuat prestasi-prestasi indahmu menghilang tertelan kebohongan syetan yang mengelabuimu dengan dustanya, menggelapkan masa depanmu, menghancurkan persahabatanmu, hanya dengan cinta palsu.

Jangan mengatas namakan cinta, jika menyebabkan dirimu pacaran dan mengurangi waktu indahmu bersama keluarga, bersama orang tuamu, bersama saudara dan sahabat-sahabatmu.

Jangan mengatas namakan cinta, bila hanya untuk bermesra-mesraan secara tidak halal sehingga menyeretmu kedalam kelalaian dunia.

Sekali lagi, jangan nistakan makna cinta..

Jika kita sudah mulai merasakan cinta, bersyukurlah. Semua orang memang dikaruniakan Allah SWT dengan rasa cinta, sebagai anugrah yang diberikan-Nya kepada kita, ummat manusia. Tidak salah kita mencintai lawan jenis, mencintai seseorang yang kita anggap istimewa, itulah kebenaran, itulah qodrat kita sebagai manusia.

Tetapi, dalam menyalurkan cinta kita, harus dengan cara yang benar dan mulia yang sudah diatur oleh agama dengan sangat indah. Tidak asal slonong tanpa restu orang tua dan dengan tanpa ikatan yang menghalalkannya.

Maka, bila rasa cinta itu datang kepada kita ummat manusia, terutama anak muda, bolehlah kita mulai mencari informasi tentang siapa cinta kita itu, missal dengan ta’aruf. Ingat.. ta’aruf, mencari info secukupnya.

-No Pacaran Sebelum Dihalalkan-

Dan, kemudian bila sudah merasa cocok, maka datangi walinya untuk mendapat restu dan melaksanakan ibadah yang indah, yaitu pernikahan.

Ingatlah,
Cinta bisa berbuah rahmat, tapi juga bisa menjadi laknat.
Cinta bisa bernilai ibadah taat, tapi bisa jadi bernilai maksiat.
Cinta bisa mengantarkan ke pintu Syurga, tapi bisa menjadikan terseret ke neraka.
Semuanya tergantung kita dalam menyikapinya.

Alhamdulillah, semoga kita termasuk dalam hamba yang diberi petunjuk agar menjalani hidup yang sementara ini dengan baik sehingga mengantarkan kepada kebahagiaan abadi di syurga.

syukron jaziilan

Salam Hangat, ardan7779.

Alasan Terbaikku

Pernah gak denger orang bilang “Jomblo terhormat” atau denger “Jomblo sampai halal” ? hehe atau juga nih diri sendiri sekarang biasa dibilang jones (jomblo ngenes) dan ada juga yang bilang “Aku jomblo karena prinsip”. Dari sekian predikat yang ada gak ada yang salah kok. Menurutku harusnya sebagai muslim dan muslimah yang baik kita harus benar-benar menjaga prinsip dan gak boleh goyah karena di dalam surat Al- Israa’ ayat 32 sudah di tuliskan

“Dan janganlah kalian mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk.”

Sudah – sudahilah perbuatan zina dan hal-hal penyebab dan pendorongnya. Oke lebih baik mengalihkan pada kegiatan lebih positif, karena cinta tak harus terucap bukan? tapi pembuktian jika saatnya telah tiba melalui sebuah jalan yang Halal.

Ini ada sebuah kisah yang mungkin bisa menginspirasi. Di daerah kuffah ada seorang pemuda yang tampan, sholeh dan baik hati. Perilakunya adalah cerminan dari akhlaknya, wajahnya teduh mencerminkan imannya. Pada suatu hari ia berkunjung ke kampung bani An-Nakha. Di sana ia bertemu dengan seorang gadis yang berparas cantik dan lembut lakunya sehingga membuatnya jatuh cinta pada pandangan pertama dan Alhamdulillah ketika ia mengutarakan maksud untuk melamar pada si gadis akhirnya diterima. Pemuda itupun memberanikan diri segera menemui orang tua si gadis dan berniat melamarnya, tetapi ayah si gadis telah menjodohkannya dengan saudara sepupunya. Meski begitu cinta mereka tidak padam hanya dapat mereka simpan dalam diam dan pasrah.

Pada suatu ketika si gadis menulis surat pada pemuda

“Aku tahu betapa besar cintamu padaku dan betapa besar pula aku di uji denganmu. Bila kamu setuju aku akan mengunjungimu atau aku akan mempermudah jalan bagimu untuk menemuiku di rumahku.”

Dijawab oleh pemuda tadi melalui orang suruhanya. “Aku tidak setuju dua alternative itu, sesungguhnya aku merasa takut bila aku berbuat maksiat pada Rabbku, akan adzab yang akan menimpaku pada hari yang besar. Aku takut pada api yang tidak pernah mengecil nyalanya dan tidak pernah padam kobarannya.”

Pesan itupun disampaian kepada wanita. Dia berkata dengan rasa kagumnya “Walau demikian rupanya dia masih takut pada Allah?. Demi Allah, tak ada seseorang yang berhak untuk bertaqwa kepada Allah dari orang lain. Semua hamba sama – sama berhak untuk itu.” Kemudian gadis itu berusaha mendekatkan diri dengan Allah akan tetapi ia tetap menyimpan cinta dan rasa rindunya pada pemuda. Tubuhnya mulai kurus karena menahan rindunya sampai ia meninggal karenannya. Dan pemuda itu seringkali berziarah kekuburnya. Dia sering menangis dan mendoakannya. Suatu waktu dia tertidur di atas kuburanya. Dia bermimpi berjumpa dengan kekasihnya dengan penampilan yang sangat baik. Dalam mimpi pemuda itu bertanya

“Bagaimana keadaanmu?. Dan apa yang kau dapatkan setelah meninggal?”

Dia menjawab, “Sebaik- baik cinta wahai orang yang bertanya, adalah cintamu. Sebuah cinta yang dapat mengiring menuju kebaikan.”

Pemuda itupun bertanya “Jika demikian, kemanakah kau menuju?.”

Dia menjawab. “Aku sekarang menuju pada kenikmatan dan kehidupan yang tak berakhir. Di surga kekekalan yang dapat kumiliki dan tidak akan pernah rusak .”

Pemuda itu berkata “Kapan aku bisa melihatmu?.”

“Tak lama lagi kau akan datang melihat kami.” Jawab wanita.

Tujuh hari setelah mimpi itu berlalu, si pemuda di panggil oleh Allah. Meninggal dunia.

Itulah salah satu kisah cinta yang tetap menjaga sampai akhirnya mereka bertemu di surga dan mungkin menikah disana.. huwa Allahualam bisoab. Kita sebagai muslim jaman sekarang bisa mengambil pelajaran dari kisah tersebut, salah satunya jika kita cinta terhadap seseorang tidak ada salahnya hanya caranya dengan benar jika sudah siap betul ya Ta’aruf dan menikah kalo belum lebih baik memperbaiki diri dulu tapi diniatkan untuk mencari ridhoNya sampai di pertemukan jodoh yang baik. Kalo menurutku sih Alasan terbaik seseorang memilih sendiri adalah karena takut pada Allah. Yang pasti cintailah Allah, rasul dan cintailah seseorang karena cinta keduaNya dan janganlah karena cinta menjadikanmu menjadi orang yang tak berakal justru sebaliknya cinta menjadikanmu lebih beriman kepadaNYA.


Writer: Zahwa Alqila, 27 desember 2017.

Sobat juga bisa kirim artikel ke web ini dengan menghubungi ke KONTAK.

*Pict from @betyal_4 .

Mesranya Dosa, Habisin Uang Orangtua.

Assalamu’alaikum.. sobat semua. 🙂

Postingan kali ini, saya akan membahas sedikit mengenai fenomena pacaran yang mungkin zaman sekarang sudah seakan dianggap biasa oleh kawula muda, bahkan ada yang menganggap bahwa berpacaran itu sebua kebanggaan dalam menjalankan masa remaja.

Mungkin akan ada pro kontra dengan postingan saya kali ini, karena memang ini hanyalah pendapat penulis yang ingin saya bagikan kepada pembaca, dan semoga bisa bermanfaat.

Mesranya dosa, Habisin uang orangtua

nah, mungkin sedikit frontal bila dibaca, apalagi bagi yang sedang membaca merpakan pelaku atau pernah menjadi peran utama dalam berpacaran.

Berpacaran, Mesranya dosa

Nah, Sudah mafhum bahwa berpacaran “katanya” merupakan kegiatan yang mengatas namakan Cinta, yang menyatukan insan laki-laki dan perempuan, namun diluar pertalian akad yang sah dari hukum negara apalagi hukum Agama Islam, yang hanya akan membawa keduanya kelubang dosa.

“Dan janganlah kamu mendekati zina, sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.” (Q.S. Al-Isra ayat 32)

Al Qur’an dengan tegas telah melarang untuk mendekati perbuatan zina, karena itu suatu perbuatan keji. Memang, tidak secara tekstual kata pacaran dipapaskan dalam ayat tersebut. Namun, perlu diingat..! Bahwa sebagian kasus perzinaan diawali dengan berpacaran, yang berakhir pada penyesalan.

Dalam berpacaran yang jelas belum ada akad pernikahan yang sah, CINTA yang suci akan ternodai dengan kemesraan yang hanya berujung pada dosa. Yaa..! Tambah Mesranya, Tambah Dosanya. Berbeda jika CINTA itu disalurkan dalam akad pernikahan yang sah, maka Tambah mesra akan semakin berpahala.

Berpacaran, Habisin uang orangtua

Nah, yang satu ini urusannya bukan masalah agama, namun dalam hal financial. Kebanyakan anak muda yang berpacaran, mereka masih ibarat bau kencur, atau hanya seorang remaja yang masih belum bekerja dan hanya meminta uang kepada orang tuanya.

Sudah banyak kasus yang menyatakan, bahwa orang yang berpacaran selalu ingin berpenampilan menarik didepan pasangannya. Berpenampilan rapi, keren, gagah, cantik, dll. Mereka ingin tampil sebagai manusia paling sempurna ketika dihadapan pasangan “ilegal” nya, yang tentu membutuhkan biaya untuk memenuhi itu semua. Dan, darimana lagi, kalau biaya itu bukan dari orang tua, sedangkan dia belum bekerja..?

Usaha orang tua untuk emcari nafkah guna menghidupi keluarga, lalu dibuang-buang untuk kepentingan yang tidak penting, bahkan berdosa..? Sungguh sebuah perbuatan yang sangat tidak terpuji.

Memang, dalam islam sangat dianjurkan untuk berta’aruf ketika hendak mencari pasangan hidup yang sah. Namun, Berta’aruf dan Berpacaran itu sangat berbeda jauuh.

Dalam berta’aruf, tidak ada kontak fisik ataupun pegang tanganlah, pegang mukalah, atau apapun (silahkan lanjutkan sendiri ke level yg lebih extrim) yang mungkin kerap dilakukan oleh para pelaku pacaran.

Dalam berta’aruf, harus disertai dengan saudara atau kawan satu makhrom, tidak berduaan atau bahkan jalan-jalan yang kerap mengundang setan dalam menghasut ke lubang dosa bahkan perzinaan.

Dalam berta’aruf, harus memang berniat untuk mencari pasangan hidup yang sah dengan jalur pernikahan. Bukan ingin mencari kenikmatan sesaat.

CINTA itu suci dan mulia.. Jangan kau nodai dengan berpacaran yang penuh dosa.

Alhamdulilah, Berbahagialah bagi anda yang tidak terjebak dalam lika-liku pacaran.

 

Jaga diri, jaga hati.. Sampai waktu yang indah itu menghampiri..

dengan penuh Cinta, Sebenar-benarnya cinta..

Dengan jalan yang diridloi, Insyaallah bahagia hingga akherat nanti.

 

salam hangat, ardan7779.

Exit mobile version