Dunio Iki, Nek Terus Dituruti Gak Bakal Mari-mari


“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali…”

Penggalan lagu ost. Doraemon yang sangat akrab di telinga kaum 90-an ini memang sangat sesuai dengan apa yang sering kita temui saat ini. Berbagai hal yang kita inginkan begitu banyak yang kerap kali terfikir terus-terusan, bahkan ketika menghadap Sang Khaliq yang seharusnya kita fokus menghambakan diri, justru teringat dengan suatu hal yang kita inginkan.

Kita merasa sangat senang sesaat setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Mendapat Handphone baru, suenengnya… Laptop / PC baru, alhamdulillah seneng banget, Mobil / Rumah baru masyaallah, nikmat sekali. Kita harus selalu mensyukuri apa yang kita dapatkan itu semua. Bersyukur kepada Dzat yang secara nyata memberikan itu semua dengan melalui berbagai perantara, Allah SWT. Namun, ada hal yang perlu kita perhatikan ketika kita menginginkan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan kesenangan dunia.

Memenuhi keinginan dan kesenangan dunia. selagi itu halal dari segi dzat dan cara mendapatkannya, sama sekali diperbolehkan (mubah). Namun kita perlu hati-hati. Dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai macam kesenangan yang bisa kita dapatkan dengan mudah, barang-barang branded, mahal, necis, atau keinginan yang dibutuh-butuhkan (aslinya tidak terlalu butuh) yang digunakan untuk memenuhi keinginan kita bisa jadi melalaikan kita untuk menginginkan sesuatu hal yang lainnya.

Seperti halnya mengikuti tren teknologi yang sangat cepat ini, hampir tidak akan ada habisnya. Ada keluar HP terbaru dengan spesifikasi semakin canggih, kita ingin memilikinya. Padahal, HP yang lama pun masih sangat baik dan berfungsi dengan semestinya serta sudah mencukupi kebutuhan kita. Namun, karena keluar “yang terbaru” dan dengan dijuluki berbagai macam nama “xxx killer, terbagus saat ini, limited edition” maka kita pun bisa saja terbawa untuk ikut membelinya. Jika sampai jadi membelinya karena hanya berdasarkan “keinginan”, maka tak lama kemudian keluar model baru lagi dan kita pun bisa dengan mudah terbawa kembali untuk memiliki model terbaru tersebut. Dan seterusnya, sampai hampir ga ada habisnya.

Dunio Iki, Nek Terus Dituruti Gak Bakal Mari-mari

Dunia ini, kalau terus dituruti gak akan ada berhentinya (akan selalu kurang)

Begitulah kita harus mawas diri, berhati-hati bahkan kepada sesuatu yang sebenarnya halal dan diperbolehkan. Jika yang halal saja perlu berhati-hati, apalagi yang haram..? maka, kita perlu berlatih untuk bisa menahan diri ketika menginginkan sesuatu. Apakah itu benar-benar kita butuhkan, atau hanya mengikuti hasrat keinginan, gengsi, atau bahkan ingin memamerkan diri.

Semoga kita semua terhindar dari gaya hidup dunia yang berlebihan, amiin..


Abah Mukhlas: Dunia Adalah Kesenangan Sedikit yang Menipu


Assalamu’alaikum, Sobat ardan. Alhamdulillah, kali ini ada sedikit catatan petuah hikmah dari Abah Mukhlas, salah satu dari Majelis Pengasuh Pondok Pesantren Al Hikmah 2 Brebes di acara PHBI Orda HISBAN pada 20 Juni 2018 kemarin.

Pada kesempatan yang baik tersebut, Abah Mukhlas menyampaikan beberapa point yang sangat mengena dengan cara penyampaian yang ‘khas’ dan mudah dicerna. Salah satunya yaitu terkait dengan perihal Dunia.

Berawal dari kedatangan beliau yang sempat terkendala oleh kemacetan (arus balik), beliau membuka dengan hikmah dibalik kemacetan itu. Bahwa dunia ini merupakan kesenangan sedikit dan menipu.

Wa mal hayaatud Dunyaa illaa Mataa’ul Ghuruur

“Dan Dunia ini tidak lain merupakan kesenangan sedikit dan sesaat serta menipu”

Mata’ -> Merupakan kesenangan, nikmat yang bisa dirasakan oleh manusia. Bersifat sementara, tidak lama dan sejatinya tidak banyak melainkan sangat sedikit.

Ghurur -> Berarti membujuk, menipu, fana. Tidak nyata dan bisa memperdaya. Tidak sama dengan apa yang dibayangkan. Mungkin ketika membayangkan perihal dunia sangat mencorong sekali, tetapi sebenarnya itu tidak nyata.

Beberapa kasus yang membuktikan bahwa Dunia itu Mata’ dan Ghurur

Ketika sedang berpuasa dan menyiapkan hidangan untuk berbuka, maghrib masih lumayan lama. Makanan yang dihidangkan sangat banyak dan beraneka rasa serta menggoda selera. Mulai dari minuman segar, makanan pembuka dan lain sebagainya. Ketika masih berpuasa, sangat terlihat menggoda dan yakin bahwa nanti ketika berbuka akan disantap semuanya, sampai habis, ludes!. Nyatanya, ketika sudah waktunya berbuka, baru menyantap kolak / makanan sedikit saja, kenikmatan yang tadinya dibayangkan sebelum waktu berbuka tidak seperti nyatanya ketika memakannya.

Dunia itu Mataa’ul Ghuruur

Ketika zaman dahulu dan belum begitu banyak kendaraan bermotor. Motor hanya dimiliki oleh mereka yang kaya raya atau keluarga ternama. Zaman dahulu membayangkan jika mempunyai motor, wuuuah! sangat nikmat, apalagi memiliki mobil, luar biasa! bisa kemana-mana sangat nyaman dan bebas hambatan. Namun, nyatanya sekarang. Semakin banyak kendaraan dan banyak orang yang memilikinya, tapi juga tidak senikmat ketika dahulu dibayangkan. Macet, polusi udara, pajak, dan lain sebagainya menjadi kendala tersendiri.

Dunia itu Mataa’ul Ghuruur

Zaman dahulu menjadi santri / masyarakat makan masih sangat sederhana. Daging atau masakan mewah sangat jarang ada, apalagi bagi kaum santri yang notabenenya sangat sederhana. Membayangkan makan enak setiap hari merupakan sebuah kenikmatan tiada tara yang sangat didambakan. Namun nyatanya, zaman sekarang hapir semua makanan enak bisa dijangkau dan dinikmati oleh semua kalangan masyarakat termasuk santri. Tetap tidak senikmat dahulu ketika membayangkan karena jika makan makanan zaman sekarang sudah dihantui oleh kolesterol naik, gula darah naik, kesehatan terganggu. Bahkan malah tidak sedikit yang akhirnya tidak boleh makan ini itu, bukan karena makanannya tidak ada / mahal, melainkan kondisi tubuh yang sudah banyak terkena penyakit dan harus kembali mengkonsumsi makanan sederhana seperti zaman dahulu.

Dunia itu Mataa’ul Ghuruur

Zaman dahulu, ekonomi belum begitu maju. Pergi beribadah haji merupakan cita-cita bagi setiap Ummat Islam termasuk santri. Membayangkan bisa memiliki uang banyak sehingga sanggup untuk biaya berangkat haji merupakan kenikmatan yang sangat besar. Rumangsane, Jika biaya haji murah dan banyak uang, bisa berangkat haji semaunya sendiri, kapan saja. Tetapi sekarang, biaya haji sudah terjangkau dan uang untuk membayar sudah ada, namun sama saja tidak senikmat seperti yang dahulu dibayangkan, karena zaman sekarang harus mengantri sekian tahun (sekitar 20 tahun) untuk bisa berangkat. Uang banyak saja, tidak bisa seenaknya untuk biaya haji, semua harus mengantri.

Wajah-wajah Alumni Hisban Putra bersama Abah Mukhlas 🙂

Dunia itu Mataa’ul Ghuruur

Perkara dunia memang merupakan sorotan yang menyilaukan, Mencorong!. Semua akan silau jika melihat gemerlap dunia, membayangkan sekian banyak kesenangan dunia sangat menggiurkan. Namun, selama itu kesenangan dunia, itu hanya fana. Dunia itu Mataa’ul Ghuruur yang terkadang banyak orang lalai terlena. Boleh kita menikmati kesenangan di dunia ini, namun jangan sampai membutakan hati. Karena kenikmatan yang Haqiqi hanya akan dirasakan oleh Orang Beriman yang Bertaqwa dan Beramal Sholeh di akherat nanti.

Dunia itu sangat terbatas, berbeda dengan Akherat nanti. Sebanyak apapun ummat manusia dari zaman Nabi Adam hingga akhir zaman jika dikumpulkan di Surga, sama sekali tidak akan kurang kenikmatan dan tempatnya. Kenikmatan yang tidak berbatas bagi Ummat yang mau bersegera mencari ampunan Allah SWT.

Allah Berfirman dalam Kitab Suci Al Qur’an QS. Ali Imran: 133

وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Allah Tuhanmu dan mendapatkan Surga, yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertaqwa.”


Begitulan sedikit catatan ringkasan hikmah yang disampaikan oleh Abah Mukhlas terkait dengan Dunia. Mungkin dengan sedikit penambahan redaksi, namun insyaallah tidak merubah arti.

Purbalingga, 20 Juni 2018.

Salam hangat, ardan7779.