Berbicara mengenai penyakit, manusia cenderung menganggapnya sebuah keadaan yang tidak diinginkan dan sangat tidak membuat nyaman. Penyakit sangat identik dengan membuat penyandangnya menderita dan penuh dengan rasa siksa. Semakin parah..? semakin tersiksa juga.

Namun, ada satu jenis penyakit yang berbeda dengan yang lain. Ia seakan menyerang penderitanya secara gerilya, pelan-pelan tanpa siksa, tapi berdampak sangat buruk dan begitu berbahaya. Penyakit ini seakan-akan tak ada bahaya, bahkan justru membuat penderitanya terlena dengan kenikmatan yang fana.

Ya..! itulah Penyakit Hati.

Bukan sekedar sakit hati karena putus asmara, atau mantan yang sudah berkeluarga. Bukan sekedar sakit karena utang yang melanda, atau barang yang hilang entah kemana. Bukan sekedar sakit jiwa yang menggila, atau pengamen yang meminta secara paksa. Bahkan bukan sekedar sakit fisik yang jelas menyiksa, bahkan hingga bisa merenggut nyawa.

Penyakit hati cenderung membuat terlena penderitanya. Penderita yang mengidap penyakit hati yang semakin parah, malah bisa semakin merasa nikmat yang dirasa betah. Riya’ dan sum’ah adalah dua penyakit hati yang sering melanda manusia, terutama kaum awwam seperti saya.

Sederhananya, riya’ adalah keadaan dimana kita merasa bahagia / bangga jika suatu amal yang kita lakukan DILIHAT orang. Kita melakukan ibadah dan amal baik, kemudian dilihat orang, kita merasa bangga dan berusaha menambah-nambahi amal tersebut karena berharap semakin dilihat oleh orang lain. Jika penyakit Riya’ menjangkiti hati, ketika semakin parah, penderita tidak merasa tersakiti bahkan cenderung ‘ketagihan’ dan nyaman dengan penyakit itu.

Sedangkan Sum’ah adalah sama dengan riya’ tetapi apa yang kita lakukan suka DIDENGAR orang. Yang kedua ini sama bahayanya dengan Riya’, sama-sama seakan gerilnya dalam hati kita. Kita melakukan suatu amal, lalu senang ketika didengar orang. kita semakin bersemangat dan menambah-nambahi amal yang kita lakukan agar semakin didengar orang. Sama seperti riya’, semakin parah semakin nikmat dirasa.

Baca Juga  Ilmu Seperti Garam, Adab Seperti Tepung

Kedua penyakit hati diatas adalah sebagian kecil dari banyak penyakit hati yang bisa menjangkiti, dan olehnya amal kebaikan akan ternodai.

Namun, bukan berarti kita berhenti untuk melakukan amal baik walau masih ada benih-benih penyakit hati itu. Yang harus kita lakukanj adalah berusaha menghilangkan penyakit itu, bukan menghentikan amal baiknya. Walau memang susah, memang berat, pelan-pelan saja. Sambil memperbaiki amal yang kita lakukan, juga berusaha menghilangkan parasit-parasit amal yang bisa mengikis pahala. Jika kita berusaha, insyaAllah hati kita akan semakin terjaga. Terjaga dari berbagai penyakit hati dan parasit pahala amal yang menjangkiti.

Syukron Jaziilan,

Artikel tersebut sebagai self reminder saya, dan juga semoga bisa bermanfaat bagi pembaca. apabila ada koreksi dan kritik saran, silahkan sampaikan di kolom komentar. 🙂

Wassalamu’alaikum,

Salam Hangat, ardan7779.