Perbandingan Cara Penentuan Hukum Dalam Islam

Ada banyak lembaga pembahasan hukum komtemporer saat ini, yang masing-masing berafiliasi ke berbagai organisasi Islam ternama dan sudah berjalan sejak dahulu. Masing-masing memiliki pendekatan yang berbeda, namun untuk menghasilkan suatu produk hukum yang paling sesuai menurut kajian dari para mujtahid. Tidak ada benar / salah dalam hal ini, karena masing-masing memiliki dasar yang dapat dipertanggung-jawabkan.

Berikut ini Perbandingan Cara Penentuan Hukum Dalam Islam

Nama LembagaPerbedaan
Bahstu Masail Nahdlatul UlamaMengambil beberapa pendapat ulama, serta menganalogikan dengan kehidupan masa ini (tidak tektual)Bersifat fleksibel dan tidak kaku.Juga mengacu pada pendapat-pendapat ulama terdahulu.
Majelis Tarjih MuhammadiyahSangat jarang mengutip pendapat ulama, cenderung hanya mengambil al-Qur’an / Hadist sebagai rujukan.
Majelis Ulama IndonesiaDilakukan dan dilaporkan secara terkstruktur dan sistematis.Dijelaskan definisi secara lengkap terkait perihal yang sedang dibahas.Mengacu kepada fatwa-fatwa yang sudah diterbitkan sebelumnya.
Dar Al-Ifta’ MesirTidak mencantumkan dalil Ushul Fiqh dalam penyampaiannya.Cenderung langsung kepada titik persoalan, tanpa mengacu pada pembahasan lain sebelumnya.Dalam penerbitannya, hanya disampaikan sedikit perkara dan kesimpulan / hasil akhir hukumnya. Rujukan dalil tidak disampaikan.

Persamaan:

  • Al Qur’an dan Hadist merupakan rujukan utama.
  • Tidak leterlek.

nb: Catatan diatas adalah catatan sekitar tahun 2018. Bila ada kesalahan / beda pendapat, silahkan dituliskan di kolom komentar. Syukron Jaziilan.

Proses Turunnya Hukum Dalam Agama Islam

Dalam Islam, hukum turun tidak begitu saja. Hukum turun menjadi sebuah ketetapan melalui beberapa tahapan. Allah Subhanatu wa Ta’ala merupakan al Hakim yang menentukan hukum berdasarkan dengan kode etik. Walaupun memang Allah SWT berkuasa atas segalanya, namun dalam penentuan hukumpun Allah SWT tidak sembarangan. Kode Etik penentuan hukum tersebut disebut dengan istilah al Mahkum Fiih. Kemudian kedudukan Manusia yang menjadi sasaran hukum tersebut disebut dengan al Mahkum ‘Alaih.

Semua hukum yang dibuat oleh Allah SWT sejatinya kembali kepada 4 titik pokok permasalahan saja yaitu:

  1. Haqqullah (Hak Allah)
  2. Haqqul ‘Ibad (Hak Hamba)
  3. Haqqoni wa Haqqullah Gholib (Dua Hak, namun hak Allah lebih kuat)
  4. Haqqoni wa Haqqul ‘Ibad Gholib (Dua Hak, namun hak Hamba lebih kuat)

Kemudian hukum-hukum yang ada dikelompokkan menjadi 3 jenis, yaitu:

  1. Kepastian (Wajib dilakukan / ditinggalkan)
  2. Pilihan (Boleh dilakukan / ditinggalkan)
  3. Status (Karena suatu hal keadaan, bisa merubab hukum asalnya)

Contoh Pembahasan Proses Turunnya Hukum

Studi Kasus: MENIKAH.

Menikah, hukum asalnya adalah sunnah. Seperti halnya disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis dari HR. Ibnu Majah, dari Aisyah r.a. yang artinya “Nikah itu sunnahku, barangsiapa yang tidak suka, bukan golonganku”

Nikah merupakan sebuah ibadah yang diperintahkan oleh Allah SWT juga dalam Al-Quran. Nikah merupakan bersatunya dua insan yang diikat dengan akad dengan melalui beberapa syarat.

Nikah: Diperintah Oleh Allah SWT.

Nikah: Berhubungan antara satu hamba dengan yang lain (‘abdun)

Nikah memerlukan keridloan dari kedua belah pihak dan bahkan dari masing-masing keluarga. Nikah juga perlu kesiapan mental, moral, finansial dari mempelai yang hendak melaksanakan. Maka, Nikah merupakan sebuah hukum yang bisa digolongkan dalam kode etik sebagai “Haqqani wa Haqqal’ibad gholib”

Namun, karena beberapa hal, hukum asal nikah yang sunnah bisa juga berubah. Sebagai contoh, sebut saja Fulan. Fulan sudah berumur 30 Tahun dan masih melajang, namun sudah mapan dan mampu jika hendak menikah. Hasrat birahinya sedang tinggi-tingginya, karena memang sudah lama menjomblo. Dikhawatirkan dan diduga kuat, jika Fulan tidak menikah, maka akan terjerumus kedalam lubang dosa kemaksiatan perzinaan. Maka, daam kasus ini Fulan diwajibkan untuk segera menikah, atau ikhtiar mencari jodoh dengan sungguh sungguh agar bisa menyalurkan birahi manusiawinya.

Dalam kasus diatas, karena STATUS Fulan demikian sudah sangat kepingin, mampu dan diduga kuat akan bermaksiat jika tidak melakukan, hukum nikah yang awalnya Sunah menjadi Wajib.

Wallahu A’lam bish-Showaab.


nb: Catatan diatas merupakan catatan sekitar tahun 2018. Mohon maaf bila ada kesalahan / kekurangan. Bisa disampaikan melalui kolom komentar. Terimakasih.

Hukum Jasa Pemasangan Iklan Poker Dan Judi Online di Website Dalam Islam

Menimbang:

  1. Perkembangan teknologi zaman ini sangat pesat baik dari segi pendidikan, pemerintahan, dan berbagai segi lainnya. Termasuk juga industri periklanan yang sudah merambak kedalam dunia online berupa pemasangan iklan di website.
  2. Beberapa penyedia layanan judi dan poker online (selanjutnya disebut: judi online) mencoba melebarkan sayapnya dengan melakukan berbagai macam cara untuk promosi, diantaranya melalui spam komentar di banyak website, di akun seleb medsos, bahkan membayar di beberapa website yang telah memiliki trafik cukup banyak.
  3. Beberapa penyedia website yang sudah ramai trafik mendapatkan tawaran pemasangan iklan judi online dengan iming-iming nominal pemasangan iklan yang fantastis. Hal ini mendorong penulis untuk membahas permasalahan ini dengan lebih detail, yang nantinya bisa menjadi mawas penulis sendiri juga semoga bisa menjadi pembahasan lebih lanjut di kemudian hari.

Mengingat:

Firman Allah Subhamahu wa Ta’ala:

  1. Q.S. Al-Maidah: 90

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْاَنْصَابُ وَالْاَزْلَامُ رِجْسٌ مِّنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya minuman keras, berjudi, (berkurban untuk) berhala, dan mengundi nasib dengan anak panah, adalah perbuatan keji dan termasuk perbuatan setan. Maka jauhilah (perbuatan-perbuatan) itu agar kamu beruntung.”

  1. Q.S. Al-Maidah: 91

اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطٰنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةَ وَالْبَغْضَاۤءَ فِى الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ وَيَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَعَنِ الصَّلٰوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan salat, maka tidakkah kamu mau berhenti?”

  1. Q.S. Al-Baqarah: 219

يَسْأَلُونَكَ عَنِ الْخَمْرِ وَالْمَيْسِرِ ۖ قُلْ فِيهِمَا إِثْمٌ كَبِيرٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَإِثْمُهُمَا أَكْبَرُ مِنْ نَفْعِهِمَا ۗ وَيَسْأَلُونَكَ مَاذَا يُنْفِقُونَ قُلِ الْعَفْوَ ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُونَ

“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: “Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya.” Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ” Yang lebih dari keperluan.” Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,”

  1. Q.S. Al-Maidah: 2

وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ شَدِيدُ الْعِقَابِ

Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya.”

  1.  Q.S. An-Nahl: 25

لِيَحْمِلُوا أَوْزَارَهُمْ كَامِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَمِنْ أَوْزَارِ الَّذِينَ يُضِلُّونَهُمْ

“Mereka hendak memikul dosa-dosa mereka sepenuhnya pada Hari Kiamat dan (memikul) sebahagian dari dosa-dosa orang-orang yang mereka sesatkan.”

Hadits Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

  1. Shahih Muslim 3107

صحيح مسلم 3107 : حَدَّثَنِي أَبُو الطَّاهِرِ حَدَّثَنَا ابْنُ وَهْبٍ عَنْ يُونُسَ ح و حَدَّثَنِي حَرْمَلَةُ بْنُ يَحْيَى أَخْبَرَنَا ابْنُ وَهْبٍ أَخْبَرَنِي يُونُسُ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ أَخْبَرَنِي حُمَيْدُ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ عَوْفٍ أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ حَلَفَ مِنْكُمْ فَقَالَ فِي حَلِفِهِ بِاللَّاتِ فَلْيَقُلْ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ وَمَنْ قَالَ لِصَاحِبِهِ تَعَالَ أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ و حَدَّثَنِي سُوَيْدُ بْنُ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا الْوَلِيدُ بْنُ مُسْلِمٍ عَنْ الْأَوْزَاعِيِّ ح و حَدَّثَنَا إِسْحَقُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ وَعَبْدُ بْنُ حُمَيْدٍ قَالَا حَدَّثَنَا عَبْدُ الرَّزَّاقِ أَخْبَرَنَا مَعْمَرٌ كِلَاهُمَا عَنْ الزُّهْرِيِّ بِهَذَا الْإِسْنَادِ وَحَدِيثُ مَعْمَرٍ مِثْلُ حَدِيثِ يُونُسَ غَيْرَ أَنَّهُ قَالَ فَلْيَتَصَدَّقْ بِشَيْءٍ وَفِي حَدِيثِ الْأَوْزَاعِيِّ مَنْ حَلَفَ بِاللَّاتِ وَالْعُزَّى قَالَ أَبُو الْحُسَيْنِ مُسْلِمٌ هَذَا الْحَرْفُ يَعْنِي قَوْلَهُ تَعَالَى أُقَامِرْكَ فَلْيَتَصَدَّقْ لَا يَرْوِيهِ أَحَدٌ غَيْرُ الزُّهْرِيِّ قَالَ وَلِلزُّهْرِيِّ نَحْوٌ مِنْ تِسْعِينَ حَدِيثًا يَرْوِيهِ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا يُشَارِكُهُ فِيهِ أَحَدٌ بِأَسَانِيدَ جِيَادٍ

Shahih Muslim 3107: Telah menceritakan kepadaku Abu At Thahir telah menceritakan kepada kami Ibnu Wahb dari Yunus. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepadaku Harmalah bin Yahya telah mengabarkan kepada kami Ibnu Wahb telah mengabarkan kepadaku Yunus dari Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku Humaid bin Abdurrahman bin ‘Auf bahwa Abu Hurairah berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berabda: “Siapa saja di antara kalian yang bersumpah dengan mengatakan dalam sumpahnya ‘Demi Lata’, maka hendaklah dia segera menyebut La Ilaaha Illallah. Dan barangsiapa mengajak temannya berjudi dengan mengatakan ‘Mari berjudi’, maka hendaknya dia bersedekah.” Dan telah menceritakan kepadaku Suwaid bin Sa’id telah menceritakan kepada kami Al Walid bin Muslim dari Al Auza’i. (dalam jalur lain disebutkan) Telah menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrahim dan ‘Abd bin Humaid keduanya berkata: telah menceritakan kepada kami Abdurrazaq telah mengabarkan kepada kami Ma’mar keduanya dari Az Zuhri dengan isnad ini. Dan hadits Ma’mar seperti hadits Yunus, namun dalam haditsnya dia menyebutkan, “Hendaknya dia bersedekah dengan sesuatu.” Dan dalam hadits Auza’id disebutkan, “Barang siapa bersumpah dengan menyebut Lata dan Uzza.” Abu Husain Muslim berkata: perkataan ‘Mari berjudi, hendaklah dia bersedekah’, seperti ini tidak ada yang meriwayatkannya seorangpun selain Az Zuhri.” Perawi berkata: “Dan Az Zuhri juga mempunyai sekitar sembilan puluh riwayat yang dia riwayatkan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan perawi yang lain tidak ikut serta di dalam riwayatnya dengan isnad yang kuat.”

  1. Shahih Muslim 2674:

مَنْ دَعَا إِلَى هُدًى كَانَ لَهُ مِنَ الأَجْرِ مِثْلُ أُجُورِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْئًا وَمَنْ دَعَا إِلَى ضَلاَلَةٍ كَانَ عَلَيْهِ مِنَ الإِثْمِ مِثْلُ آثَامِ مَنْ تَبِعَهُ لاَ يَنْقُصُ ذلِكَ مِنْ آثَامِهِمْ شَيْئًا

“Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, ia akan mendapatkan pahala seperti pahala-pahala orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi pahala-pahala mereka sedikitpun. Dan barangsiapa yang mengajak kepada kesesatan, ia akan mendapatkan dosa seperti dosa-dosa orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa-dosa mereka sedikitpun.”

  1. Shahih Muslim 1017:

مَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً حَسَنَةً فَلَهُ أَجْرُهَا وَأَجْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا بَعْدَهُ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أُجُوْرِهِمْ شَيْءٌ  وَمَنْ سَنَّ فِـي الْإِسْلَامِ سُنَّةً سَيِـّئَةً كَانَ عَلَيْهِ وِزْرُهَا وَوِزْرُ مَنْ عَمِلَ بِهَا مِنْ بَعْدِهِ مِنْ غَيْرِ أَنْ يَنْقُصَ مِنْ أَوْزَارِهِمْ شَيْءٌ

“Barangsiapa yang memberi teladan (contoh) perbuatan yang baik, ia akan mendapatkan pahala perbuatan tersebut serta pahala orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi pahala mereka sedikit pun. Dan barangsiapa yang memberikan contoh kejelekan, maka ia akan mendapatkan dosa perbuatan tersebut serta dosa orang-orang yang mengikutinya (sampai hari kiamat) tanpa mengurangi dosa mereka sedikit pun”

Kaidah Fiqh

Mabadi Awaliyah, Kaidah ke 36:

ما حرم اخذه حرم اعطاؤه

“Sesuatu yang haram diambil, maka haram pula memberikannya”.

Ushul Fiqh:

الأصل في النهي للتحريم إلا ما دل الدليل على خلافه

“Asal lafadz yang menggunakan nahi adalah haram, hingga datang dalil yang menunjukkan hal lainnya.” (Lathaiful Isyarah)

Qoul Ulama:

  1. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib

وَإِنْ أَخْرَجَاهُ أَيِ الْعِوَضَ الْمُتَسَابِقَانِ مَعًا لَمْ يَجُزْ … وَهُوَ أَيِ الْقِمَارُ الْمُحَرَّمُ كُلُّ لَعْبٍ تَرَدَّدَ بَيْنَ غَنَمٍ وَغَرَمٍ

“Dan jika kedua pihak yang berlomba mengeluarkan hadiah secara bersama, maka lomba itu tidak boleh … dan hal itu, maksudnya judi yang diharamkan adalah semua permainan yang masih simpangsiur antara untung dan ruginya.”

  1. Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq

(كُلُّ مَا فِيْهِ قِمَارٌ) وَصُوْرَتُهُ الْمُجْمَعُ عَلَيْهَا أَنْ يَخْرُجَ الْعِوَضُ مِنَ الْجَانِبَيْنِ مَعَ تَكَافُئِهِمَا وَهُوَ الْمُرَادُ مِنَ الْمَيْسِرِ فِيْ اْلآيَةِ. وَوَجْهُ حُرْمَتِهِ أَنَّ كُلَّ وَاحِدٍ مُتَرَدِّدٌ بَيْنَ أَنْ يَغْلِبَ صَاحِبَهُ فَيَغْنَمَ. فَإِنْ يَنْفَرِدْ أَحَدُ اللاَّعِبَيْنِ بِإِخْرَاجِ الْعِوَضِ لِيَأْخُذَ مِنْهُ إِنْ كَانَ مَغْلُوْبًا وَعَكْسُهُ إِنْ كَانَ غَالِبًا فَاْلأَصَحُّ حُرْمَتُهُ أَيْضًا

“(Setiap kegiatan yang mengandung perjudian) Bentuk judi yang disepakati adalah hadiah berasal dua pihak disertai kesetaraan keduanya. Itulah yang dimaksud al-maisir dalam ayat al-Qur’an. [QS. Al-Maidah: 90]. Alasan keharamannya adalah masing-masing dari kedua pihak masih simpang siur antara mengalahkan lawan dan meraup keuntungan -atau dikalahkan dan mengalami kerugian-. Jika salah satu pemain mengeluarkan haidah sendiri untuk diambil darinya bila kalah, dan sebaliknya -tidak diambil- bila menang, maka pendapat al-Ashah mengharamkannya pula.”

  1. Burhanudin (ulama mazhab Hanafi, wafat tahun 616H) dalam Ibnu Batthal, Syarh shahih Bukhari, jilid V, hal 51-52:

Abu Al Qasim ditanya tentang hukum menjual sesuatu kepada orang yang butuh dan dikhawatirkan si pembeli menggunakannya untuk keperluan yang haram, apakah si penjual wajib menanyakan kepada pembeli untuk apa dia gunakan barang yang akan dibelinya? Ia menjawab: segala sesuatu sesuai dengan kegunaan barang pada umumnya hingga datang hal yang meragukan. Apabila uang milik seorang pembeli mayoritasnya adalah haram atau penjual dikenal sebagai orang yang terbiasa mendapat harta dengan cara haram maka yang terbaik menanyakan hal tersebut kepadanya, dan jika mayoritasnya adalah harta yang halal, maka tidak perlu ditanyakan.

  1. Ibnu Jauzi dalam Shaidul Khathir, hlm. 435:

مساعد الظلم ظالم. قال السجان لأحمد بن حنبل: هل أنا من أعوان الظلمة. فقال: لا. أنت من الظلمة. إنما أعوان الظلمة من أعانك في أمر.

“Pembantu kezaliman termasuk orang zalim. Seorang (tukang cambuk) berkata kepada Ahmad bin Hanbal : apakah saya termasuk pembantu kezaliman? Beliau menjawab : tidak, kamu termasuk yang berbuat zalim, pembantu kezaliman hanyalah orang yang membantumu dalam urusanmu.”

  1. Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah

Berkata Imam Mujahid dalam menafsirkan Hadits Shahih Muslim 1017 dan ayat-ayat lain: “yaitu orang tersebut menanggung dosanya sendiri dan dosa orangorang yang mengikutinya, Dan tidak dikurangi sedikitpun.

Menetapkan

  1. Hukum asal dari membantu usaha orang lain dengan memasang iklan di Website adalah Boleh. Akan menjadi Sunnah jika usaha tersebut halal dan baik, namun bisa menjadi haram jika usaha tersebut juga haram.
  2. Jasa Pemasangan Iklan Poker Dan Judi Online di Website adalah Haram, karena sangat jelas hukum judi dalam Islam itu haram, dan tidak ada potensi transaksi halal didalamnya, sehingga hukum menyebarkannyapun haram.
  3. Jika menggunakan jasa pemasangan iklan yang random (seperti Google Adsense) agar melakukan filter iklan judi online agar tidak muncul di website.
  4. Bagi yang sudah pernah menyetujui jasa pemasangan iklan di website-nya, maka untuk segera bertaubat dan tidak mengulanginya kembali.

Ditetapkan: Malang, Senin 14 Robi’ul Awal 1441H / 11 November 2019M
M. Syauqi Hanif Ardani


Catatan diatas adalah catatan untuk tugas Bahtsu Masail di Madrasah Diniyah Nurul Huda. Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang yang ditulis pada tanggal tertera diatas. Mohon maaf bila ada kesalahan penulisan. Jika ditemukan ada kekeliruan, silahkan disampaikan di kolom komentar, terimakasih.

Jika hendak melihat versi .docx nya, silahkan KLIK DISINI.

Berkata Ibnul Qayyim Rahimahullah – Madarijus Salikin: 1/177

Berkata Ibnul Qayyim rahimahullah:

🔖 Jika Allah membukakan untukmu pintu sholat malam, janganlah kau memandang orang yang tidur dengan pandangan merendahkan.

🔖 Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa, jangan kau memandang orang yang tak berpuasa dengan pandangan merendahkan.

🔖 Jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, jangan kau memandang orang yang tak berjihad dengan pandangan merendahkan.

Bisa saja orang yang tidur, yang tak berpuasa dan yang tak berjihad justru lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.

Kemudian beliau melanjutkan,

Engkau berpagi hari bangun dari tidur lalu menyesal lebih baik dari pada berpagi hari dalam keadaan terjaga lalu berbangga. Karena orang yang sombong, amalannya tidak akan naik ke sisi Allah.


( 📔Madarijus Salikin:1/177)

Dunio Iki, Nek Terus Dituruti Gak Bakal Mari-mari

“Aku ingin begini, aku ingin begitu. Ingin ini ingin itu banyak sekali…”

Penggalan lagu ost. Doraemon yang sangat akrab di telinga kaum 90-an ini memang sangat sesuai dengan apa yang sering kita temui saat ini. Berbagai hal yang kita inginkan begitu banyak yang kerap kali terfikir terus-terusan, bahkan ketika menghadap Sang Khaliq yang seharusnya kita fokus menghambakan diri, justru teringat dengan suatu hal yang kita inginkan.

Kita merasa sangat senang sesaat setelah kita mendapatkan apa yang kita inginkan. Mendapat Handphone baru, suenengnya… Laptop / PC baru, alhamdulillah seneng banget, Mobil / Rumah baru masyaallah, nikmat sekali. Kita harus selalu mensyukuri apa yang kita dapatkan itu semua. Bersyukur kepada Dzat yang secara nyata memberikan itu semua dengan melalui berbagai perantara, Allah SWT. Namun, ada hal yang perlu kita perhatikan ketika kita menginginkan sesuatu, terutama yang berkaitan dengan kesenangan dunia.

Memenuhi keinginan dan kesenangan dunia. selagi itu halal dari segi dzat dan cara mendapatkannya, sama sekali diperbolehkan (mubah). Namun kita perlu hati-hati. Dunia saat ini dipenuhi dengan berbagai macam kesenangan yang bisa kita dapatkan dengan mudah, barang-barang branded, mahal, necis, atau keinginan yang dibutuh-butuhkan (aslinya tidak terlalu butuh) yang digunakan untuk memenuhi keinginan kita bisa jadi melalaikan kita untuk menginginkan sesuatu hal yang lainnya.

Seperti halnya mengikuti tren teknologi yang sangat cepat ini, hampir tidak akan ada habisnya. Ada keluar HP terbaru dengan spesifikasi semakin canggih, kita ingin memilikinya. Padahal, HP yang lama pun masih sangat baik dan berfungsi dengan semestinya serta sudah mencukupi kebutuhan kita. Namun, karena keluar “yang terbaru” dan dengan dijuluki berbagai macam nama “xxx killer, terbagus saat ini, limited edition” maka kita pun bisa saja terbawa untuk ikut membelinya. Jika sampai jadi membelinya karena hanya berdasarkan “keinginan”, maka tak lama kemudian keluar model baru lagi dan kita pun bisa dengan mudah terbawa kembali untuk memiliki model terbaru tersebut. Dan seterusnya, sampai hampir ga ada habisnya.

Dunio Iki, Nek Terus Dituruti Gak Bakal Mari-mari

Dunia ini, kalau terus dituruti gak akan ada berhentinya (akan selalu kurang)

Begitulah kita harus mawas diri, berhati-hati bahkan kepada sesuatu yang sebenarnya halal dan diperbolehkan. Jika yang halal saja perlu berhati-hati, apalagi yang haram..? maka, kita perlu berlatih untuk bisa menahan diri ketika menginginkan sesuatu. Apakah itu benar-benar kita butuhkan, atau hanya mengikuti hasrat keinginan, gengsi, atau bahkan ingin memamerkan diri.

Semoga kita semua terhindar dari gaya hidup dunia yang berlebihan, amiin..

Kumpulan Puji-pujian Setelah Adzan, Serta Makna Yang Terkandung.

Assalamu’alaikum sobat, terutama saudara seiman, lebih terutama masyarakat Indonesia, lebih-lebih terutama masyarakat Jawa dan desa. Kalian mungkin sering dengar syair-syair indah atau biasa disebut Puji pujian yang dikumandangkan setelah adzan, sembari menunggu waktu iqomah Sholat 5 waktu kan..?

Berikut saya bagikan beberapa lirik syair puji-pujian jawa kuno yang penuh makna yang biasa dilantunkan setelah adzan sambil menunggu iqomah. Juga disertai dengan audio untuk mengetahui bacaan dan nada yang digunakan, yaa walau suara jauh dari kata bagus, (maklum bukan ahli tarik suara, merekam pun hanya pakai HP) 🙂

1. Doa Bagi Kedua Orang Tua, Juga Nasehat Bagi Kita Semua

“Allahummaghfir lii dzunubi

Wa li Walidayya Warhamhuma

Kamaa Robbayaani Shoghira”

Sopo Kang Pengen Uripe Berkah

Sopo Kang Pengen Mati Husnul Khatimah

Ayooo.. Tumandang Sholat Berjama’ah

Syair tersebut memiliki dua maksud dan dalam dua bahasa. Yang pertama adalah mengandung doa bagi kedua orang tua kita. Agar Allah SWT berkenan untuk memberikan ampunan kepada kita semua dan kepada orang tua kita, serta agar Allah SWT mengasihi mereka sepertihalnya mereka mengasihi kita dikala kecil. Mendoakan orang tua merupakan salah satu cara kita untuk berbakti kepada orang tua yang merupakan Sunnah Nabi Muhammad SAW.

Dalam Al-Qur’an [Al Isra/17`: 23] juga menjelaskan agar kita berbuat baik kepada ibu dan bapak kita.

وَقَضَى رَبُّكَ أَلاَّ تَعْبُدُوا إِلآ إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

Dan Rabbmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu.

Nabi Muhammad SAW juga menjelaskan pentingnya berbakti kepada orang tua dalam hadisnya [HR Bukhari no. 5.970] bahkan Nabi mengutamakan bakti kepada mereka atas jihad fi sabilillah. Ibnu Mas’ud berkata:

سَأَلْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْعَمَلِ أَحَبُّ إِلَى اللَّهِ قَالَ الصَّلَاةُ عَلَى وَقْتِهَا قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ بِرُّ الْوَالِدَيْنِ قَالَ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ الْجِهَادُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ

Aku pernah bertanya kepada Rasulullah,”Amalan apakah yang paling dicintai Allah?” Beliau menjawab,”Mendirikan shalat pada waktunya.” Aku bertanya kembali,”Kemudian apa?” Jawab Beliau,”Berbakti kepada ke orang tua,” lanjut Beliau. Aku bertanya lagi,”Kemudian?” Beliau menjawab,”Jihad di jalan Allah.”

Dalam bait syair yang kedua dilantunkan dalam bahasa Indonesia, juga mengandung makna yang amat dalam. Sebuah ajakan bagi siapa saja yang menginginkan hidupnya berkah, serta meninggal dalam keadaan husnul khatimah maka seyogyanya menjalankan sholat berjamaah. Nabi Muhammad SAW bersabda (diterangkan dalam kitab bulughul maram):

:عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ عُمَرَ -رَضِيَ اَللَّهُ عَنْهُمَا-; أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ
(صَلَاةُ اَلْجَمَاعَةِ أَفْضَلُ مِنْ صَلَاةِ اَلْفَذِّ بِسَبْعٍ وَعِشْرِينَ دَرَجَةً (مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah Ibnu Umar Radliyallaahu ‘anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wa Sallam bersabda: “Sholat berjama’ah itu lebih utama dua puluh tujuh derajat daripada sholat sendirian.” Muttafaq Alaihi.

2. Syair Memohon Ampunan dan Bertaubat

“Astaghfirullahal’adzim

Alladzii Laailaha Illa huwalhayyul Qoyyumu

Wa Atubu Ilaihi Taubatan ‘Abdin Dzolimi

Laa Yamliku Linafsihi Dhoro Wa La Naf’a

Wa La Mauta wa La Hayaata wa La Nushura”

أَسْتَغْفِرُ اللهَ الْعَظِيْمَ الَّذِي لاَ اِلهَ إِلاَّ هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أَتُوْبُ إِلَيْهِ تَوْبَةَ عَبْدٍ ظَالِمٍ لاَ يَمْلِكُ لِنَفْسِهِ ضَرًّا وَ لاَ نَفْعًا وَ لاَ مَوْتًا وَ لاَ حَيَاةً وَ لاَ نُشُوْراً

Merupakan Syair Pengakuan seorang hamba yang penuh dengan dosa. memohon kepada Tuhannya untuk kiranya berkenan mengampuni segala dosanya. “Yaa Allah.. Sungguh tidak ada Tuhan selain engkau. Dan saya bertaubat dengan sungguh-sungguh kepada-Mu dengan sebenar-benar taubat, taubat seorang hamba yang penuh dengan kedzaliman, hamba yang bahkan tidak memiliki dirinya sendiri, yang tidak mampu membuat mudharat atau manfaat untuk hidup, mati, bahkan hingga bangkit kembali”. Ini merupakan salah satu doa yang biasa dibaca ketika setelah melakukan sholat Taubat. Allah SWT berfirman dalam Al Qur’an Surat At- Tahrim ayat 8:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا تُوبُوا إِلَى اللَّهِ تَوْبَةً نَّصُوحًا عَسَى رَبُّكُمْ أَن يُكَفِّرَ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَيُدْخِلَكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ يَوْمَ لَا يُخْزِي اللَّهُ النَّبِيَّ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ نُورُهُمْ يَسْعَى بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا أَتْمِمْ لَنَا نُورَنَا وَاغْفِرْ لَنَا إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaubatlah kamu kepada Allah dengan ‘Taubat Nasuha’ (taubat yang sebenar), mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapuskan kesalahan-kesalahan kamu dan memasukkan kamu ke dalam Syurga yang mengalir di bawahnya beberapa sungai, pada hari Allah tidak akan menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama-sama dengannya; cahaya (iman dan amal soleh) mereka, bergerak cepat di hadapan mereka dan di sebelah kanan mereka (semasa mereka berjalan); mereka berkata (ketika orang-orang munafik meraba-raba dalam gelap-gelita): “Wahai Tuhan kami! Sempurnakanlah bagi kami cahaya kami, dan limpahkanlah keampunan kepada kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu”

3. Syair Sayyidul Istighfar

اللَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ

Tidak jauh beda maksud syair ini dengan syair nomor 2 diatas, yaitu memohon ampunan kepada Allah SWT atas segala dosa dan kesalahan. Sayyidul IStighfar sendiri merupakan kalimat istighfar yang sangat masyhur karena merupakan kepala / rajanya dari lafadz istighfar. Nabi Muhammad SAW bersabda:

مَنْ قَالَهَا مِنَ النَّهَارِ مُوقِنًا بِهَا ، فَمَاتَ مِنْ يَوْمِهِ قَبْلَ أَنْ يُمْسِىَ ، فَهُوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ ، وَمَنْ قَالَهَا مِنَ اللَّيْلِ وَهْوَ مُوقِنٌ بِهَا ، فَمَاتَ قَبْلَ أَنْ يُصْبِحَ ، فَهْوَ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ

“Barangsiapa yang mengucapkannya (sayyidul istighfar) pada siang hari dan meyakininya (ampunannya akan diterima oleh Allah), kemudian dia mati pada hari itu sebelum waktu sore maka dia termasuk golongan penghuni surga, dan barangsiapa mengucapkannya pada malam hari dalam keadaan meyakininya, kemudian dia mati sebelum waktu pagi tiba maka dia termasuk golongan penguhuni surga.”

Hadits shohih tersebut diriwayatkan oleh:

  • Al Bukhori dalam shohihnya no 63o3, 6323 dan al Adabul Mufrad no 617, 620.
  • An Nasa-i, as Sunnanul Kubra no 9763, 10225.
  • Ath Thabarni dalam kitabnya al Mu’jamul Kabir no 7172 dan al Mu’jamul Ausath no 1018 dan kitab ad Du’aa no 312-313.
  • Ibnu Hibban dalam kitab at Ta’liiqaatul Hisaan no 928-929

4. Rabbana Yaa Rabbana Dholamna Anfusana

Rabbana Yaa Rabbana.

Rabbana Dzalamna Anfusana wa Inlam Tagfirlana wa Tarhamna Lanakunanna Minal Khasiri

Masih dengan makna sebuah pengakuan hamba yang penuh dengan dosa, agar segala kesalahan mendapat ampunan dari Allah SWT.

5. Syair Mohon Husnul Khatimah

“Laa ilaaha illallah

Al Malikul Haqul Mubin

Muhammadu Rasulullah

Shodiqul Wa’dil Amin”

Yaa Allah Kulo Nyuwun

Ibadah Kulo Istiqomah

Yaa Allah Kulo Nyuwun

Pejah Kulo Husnul Khatimah

Syair yang satu ini adalah syair Tauhid, yang dilanjutkan dengan syair memohon agar bisa beribadah secara istiqomah dan meninggal dalam keadaan Husnul Khatimah. Kita sadar bahwa semua kekuatan yang kita terima, termasuk dalam menjalankan segala macam ibadah, merupakan karunia dari Allah SWT, sehingga kita memohon untuk dikuatkan bisa beribadah secara istiqomah. Kita juga seyogyanya memohon kepada Allah SWT agar diwafatkan dalam sebaik-baik keadaan, yaitu Husnul Khatimah.

6. Sholawat Asyghil

Merupakan sholawat yang sering dibaca di kampung-kampung, terutama ketika sedang mengalami masa sulit di tahun 80an.

Lirik Teks Sholawat Asyghil

Ya Allah, limpahkanlah sholawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad.
Dan sibukkanlah orang-orang zhalim (agar mendapat kejahatan) dari orang zhalim lainnya.
Keluarkanlah kami dari kejahatan mereka dalam keselamatan.
Dan berikanlah sholawat kepada seluruh keluarga Nabi serta para sahabat beliau

Berikut dibawah salah satu Pembacaan syair sholawat Asyghil sebagai puji-pujian setelah adzan.

# Syair Sholawat dan Nasehat Lainnya

Masih begitu banyak syair sholawat, Puji-pujiab dan nasehat lainnya yang sering dikumandangkan di daera-daerah seperti Syair Tanpo WAton Karya Gusdur, Syair Sholawat Padang Bulan karya Habib Luthfi, Sholawat Nariyah, Syair Sholawat khas Habib Syekh, Syair Abu Nawas, dan lain sebagainya.

KH. Agus Sunyoto (penulis buku fenomenal Atlas Wali Songo) juga menjelaskan terkait syair-syair / puji-pujian khas jawa yang menerangkan kebaikan. Bisa disimak di video berikut ini:

Mungkin juga didaerah kamu ada yang berbeda, entah lirik maupun nada, namun tujuannya sama yaitu menyuarakan kebaikan. Jika kamu tau syair-syair apa lagi yg sering kamu dengar, bagikan di kolom komentar yaa.. 😀


Sekian beberapa syair yang bisa saya share, semoga bermanfaat. Syukron Jaziilan. Bagikan jika bermanfaat, semoga menjadi amal kita semua.

Wassalamu’alaikum. Salam Hangat, ardan7779.

Doa dalam Al Qur’an, Al Kahfi ayat 10 serta keutamaannya.

Selamat berhari Jumat, wahai Ummat Nabi Muhammad SAW.. Ada beberapa amalan di Hari Jumat yang Berkah ini yang bisa kita lakukan, salah satunya berdoa kepada Allah SWT karena memang Hari Jumat merupakan salah satu waktu yang baik dan mustajab untuk berdoa.

Doa yang terkandung didalam al Qur’an adalah salah satu doa yang paling mustajab. Salah satunya doa ini, yang terdapat dalam surat al kahfi ayat 10. Dari maknanya saja sangat mengena. Bagaimana kita memohon kepada Sang Pencipta petunjuk yang lurus dan rahmat dalam aktifitas / urusan kita. Sehingga, setiap jengkal langkah dan keputusan yang kita ambil, Insyaallah merupakan yang terbaik dari-Nya.

Ketika dulu sempat sowan kepada pengasuh PP. Sunan Pandanaran, beliau KH. Mu’tashimbillah meyampaikan bahwa seorang pencari ilmu harus memiliki suatu amalan yang istiqomah ia laksanakan, paling tidak membaca doa tsb. Dibaca setiap ba’da sholat rowatib sebanyak minimal 3 kali. (Kurang lebih, Insyaallah redaksinya seperti itu).

Al Kahfi ayat 10

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Sura Al-Kahf, Ayah 10)

Ketika pelajaran Abah Yasin (salah satu guru sesepuh) di Pondok Pesantren Al Hikmah pun, beliau menyampaikan pentingnya doa itu.

Beberapa Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at

Bahwa ganjaran bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at adalah berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan bisa jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:

إن الحسنات يُذْهِبْن السيئات

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)

Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal

Manfaat lain surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menangkal fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi. Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian lainnya keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits al-Nawas bin Sam’an yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.”

Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” Yakni dari huru-haranya.

Imam Muslim berkata, Syu’bah berkata dalam Shahih Muslim, Kitab Shalah al-Mufassirin, Bab; Fadhlu Surah al-Kahfi wa Aayah al-Kursi: 6/92-93,

“Dari bagian akhir surat al-Kahfi.” Dan Hammam berkata, “Dari permulaan surat al-Kahfi.”

Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal”. Demikian juga pada akhirnya, yaitu firman Allah:

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? . . .” QS. Al-Kahfi: 102. (Lihat Syarah Muslim milik Imam Nawawi: 6/93)

Semoga kita diberi kekuatan dalam menjalani cobaan, dan diberi rahmat dalam setiap kegiatan.

Hari Jum’at, jangan lupa membaca Surat Al Kahfi nya, minimal 10 ayat pertama 🙂


Jazaakumullahu khoiran katsiiraa.

Salam hangat, ardan7779.

Rekaman Ngaji Lathoiful Isyarat – Ushul Fiqh

Assalamu’alaikum.. Di postingan ini akan dibagikan hasil rekaman ngaji Ushul Fiqh (file Audio) kitab Lathoiful Isyarat yang diampu oleh Ust. Fahmi Ferdiansyah di Pondok Pesantren Salafiyah Anwarul Huda.

Namun mohon maaf, bila kualitas kurang bagus, karena direkam menggunakan HP dan dengan kondisi seadanya. Ada beberapa pertemuan yang tidak terekam serta merekamnya telat, karena kelupaan.

Paling tidak file-file ini bisa membantu rekan-rekan yang hendak menafsahi / menambal kitab Lathoiful Isyarat, atau hendak mendengarkan penjelasannya.

Penting,. Ini merupakan untuk konsumsi internal santri kelas 2 Ulya PP. Anwarul Huda / alumni, karena ada beberapa keterangan yang harus disampaikan secara runtut, namun mungkin di file audio ini ada yang terpotong (takutnya nanti malah salah presepsi). Namun, jika rekan-rekan umum hendak menggunaknnya sekadar untuk menambah ilmu dan memang bisa memahami apa yang disampaikan, silahkan digunakan.

Jika hendak download, double klik filenya lalu klik icon pojok kanan atas dan download dengan klik icon download di bagian kanan atas.

Klik icon unduh untuk mendownload

Insyaallah file-file akan di update recara berkala. Semoga bermanfaat!

Download Disini >> Rekaman Lathoiful Isyarat 2 Ulya PP. Anwarul Huda

Exit mobile version