9 Sensasi Melakukan Pendakian Malam Hari


Halloo travelers.. Kali ini aku bahas beberapa sensasi yang didapatkan ketika kita melakukan pendakian malam hari. Banyak banget sensasinya, ada yang positif juga ada negatifnya. Naahh.. disini akan saya bahas berdasarkan opini pribadi selama melakukan pendakian yang sudah dilakukan.

Mendaki Malam Hari menjadi primadona bagi sebagian tim pendaki, namun juga ada yang menyarankan untuk menghindarinya. Berikut beberapa sensasinya, simak yaa..

1. Lebih Adem, geeerr..

Tentu, dan tidak menipu. Pendakian Malam Hari lebih adem karena si matahari masih terlelap, hanya ada sang rembulan yang menemani, itupun jika dirinya berkenan. Suasana dingin menyelimuti, namun jangan salah karena sedingin-dinginnya malam, masih dingin sikapnya. eh, maksunya sedingin-dinginnya malam, jika dibawa dengan jalan mendaki, maka tetap akan terasa sumuk. Saya sendiri jika mendaki malam hari, tetap memakai kaos oblong, atau cukup menggunakan kemeja flanel, tidak berjaket. Namun, jika istirahat terlalu lama, dan tidak ada pergerakan seperti jalan, maka dingin akan menusuk tulang. Jadi, jika malam hari harus konsisten berjalan untuk menjaga suhu tubuh, jika istirahat sebentar saja untuk menormalkan pernafasan.

2. Hemat Air

Salah satu yang paling urgent ketika mendaki, adalah ketersediaan air. Melakukan pendakian malam hari akan memiliki point sangat bagus untuk melakukan penghematan air. Mengapa..? Lebih dingin dan tidak cepat haus, tidak terlalu banyak minum ketika mendaki. Minum hanya seteguk dua teguk jika memang diperlukan. Tidak banyak minum juga baik untuk menjaga kekuatan lutut dan persendian kaki, karena jika terlalu banyak minum akan menjadikannya cepat pegal (base on experience). Air minumpun adem dengan sendirinya, jika diminum sedikit saja sudah segar luar biasa.

3. Tidak Tertipu cinta Puncak Palsu

Sering tertipu dengan janji dan bayangan palsu..? tenan, jika kamu melakukan pendakian malam hari, maka terbebas dari semua itu. Suasana gelap, dan penerangan ala kadarnya, hanya menerangi jalur pendakian, membuat kita tidak usah mereka-reka “OOh.. itu looh puncaknya, sebentar lagi, udah kelihatan” –> ZONK!, ternyata hanya puncak palsu 🙁 . Kita tidak akan disuguhi puncak2 palsu. tetap menatap kedepan jalur pendakian.

4. Perjalanan Lebih Santai, Tau-tau Nyampai

Santai Braaaaay.. Sambil menikmati suara-suara khas hutan malam hari, tiupan angin sepoy-sepoy, terkadang mengenai pohon cemara, wuuuuss.. wenak deh. Gelap dan fokus kepada tapak jalan didepan. Rosulullah SAW juga bersabda:

 ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﺑِﺎﻟﺪُّﻟْﺠَﺔِ ﻓَﺈِﻥَّ ﺍﻷَﺭْﺽَ ﺗُﻄْﻮَﻯ ﺑِﺎﻟﻠَّﻴْﻞِ

“Hendaklah kalian bepergian pada waktu (Duljah) malam, karena seolah-olah bumi itu terlipat pada waktu malam.” HR. Abu Dawud no. 2571, al-Hakim II/114, I/445, hasan.

Nah kan, Nabi juga sudah menjelaskan bahwa seolah-olah bumi terlipat. Jadinya ehhhhhh.. tau-tau nyampai, terasa lebih cepat dan tenaga lebih hemat.

5. Menikmati Limpahan Bintang dan Lampu Perkotaan

“Tergantung amal ibadah anda” Mendapatkan view malam hari yang indah, jika memang cuaca bersahabat. Suasana perkotaan dengan gemerlap lampunya, serta langit hitam dengan pasar bintangnya. Luar Biasa..! Sesekali bisa ambil foto dengan kamera yang mumpuni tentunya.

Pemandangan Lampu Perkotaan
Foto Bintang dan Milkyway

6. Lebih Berbahaya

Nah, mulai point 6 ini mungkin sensasi dari sisi negatifnya. Yang pertama lebih berbahaya. Tentu, malam hari dengan gelap gulitanya, penerangan seadanya, serta jalur hutan yang terkadang ada jebakan tak terkira. Namun, bisa diantisipasi dengan menyiapkan penerangan yang cukup, serta mempelajari jalur yang dihadapi. Kalau saya, biasanya minimal selang seling antara anggota tim harus memegang senter, jadi tidak harus semuanya pegang untuk menghemat sumber cahaya, atau paling tidak depan dan belakang sendiri.

7. Minim Oksigen

Konon kata guru saya ketika zaman SMA, tumbuhan akan mengeluarkan oksigen dan menyerap karbondioksida ketika siang hari, namun akan sebaliknya, menyerap oksigen dan mengeluarkan karbondioksida ketika malam hari, sehingga melakukan pendakian malam hari seakan berebutan oksigen yang ada dengan tumbuhan disekitar anda. Sangat tidak dianjurkan melakukan pendakian malam hari jika ada salah satu anggota tim yang terjangkit ispa.

8. Perlu Menyiapkan Penerangan

Sudah mafhum (baca: difahami) yaa.. Di hutan pegunungan, tentu berbeda dengan perkotaan dengan semua gemerlap lampu dan tipu daya dunia. Penerangan hanya dari kita yang kesana, sehingga perlu disiapkan dengan matang. Sediakan senter yang cukup, bukan hanya itu, baterainya pun juga harus dipastikan full dan mencukupi selama pendakian hingga kembali pulang. Jika anda membawa powerbank dan gadget, utamakan pastikan dulu untuk penerangan cukup sebelum mementingkan baterai gadget anda.

Penerangan dengan Powerbank dan Lampu LED Stick

Untuk penerangan, saya sangat cocok dengan kombinasi powerbank + lampu led stick. Disamping awet baterai, cahayanyapun sangat terang, juga lebih murah serta bisa berfungsi ganda powerbanknya. Bukan hanya itu, kombinasi ini juga bisa untuk menerangi 2-3 orang dalam tim, juga bisa untuk lampu didalam tenda.

9. Rentan mantan Setan

Pocong uhuy

Naaaaaaahh.. Yang terakhir ini horor ya. Antara mantan dan setan, sama-sama horor kan..? uppps. Ada banyak sekali mitos dan kisah misteri di setiap gunung yang ada, terutama di Indonesia. Kalau saya pernah ngaji dan dijelaskan, bahwa gunung dan laut memang tempatnya makhluk Allah selain manusia berkumpul, termasuk yang halus2 gitu.. Namun, kita tidak akan diganggu selama kita tidak mengganggu mereka. Iyaap, benar. Alhamdulillah, saya selama ini tidak pernah diganggu oleh makhluk astral sama sekali. Insyaallah, kuncinya satu. Eling neng Gusti Pengeran (baca: Ingat kepada Allah SWT). Jangan lupa untuk melakukan doa bersama sebelum melakukan pendakian, juga perbanyak sholawat ketika memasuki hutan, insyaallah tidak ada gangguan. Atau jika tetap saja dinampakkan, mungkin hanya sebatas ingin kenalan :3


OK, sekian 9 Sensasi Melakukan Pendakian Malam Hari. Jadi gimana menurut sobat semua..? Bersensasi bukan..? Pilihan ada di diri dan tim anda semua, persiapkan baik-baik agar Selamat Sampai Pulang Kembali, karena itu tujuan utama sebuah perjalanan.

Bersama Rekan tim ketika melakukan pendakian ke Gunung Slamet, 2017.

*Salam hangat, ardan7779.

 


5 Alasan Mengapa Memilih Gunung Bromo Sebagai Destinasi Utama Wisata Anda


Objek wisata Gunung Bromo yang sering kita kenal dengan Wisata Puncak Bromo Merupakan salah satu yang paling memberikan daya Tarik tersendiri selain objek wisata gunung  yang lainnya Indonesia. Gunung Bromo  tidak pernah sepi oleh wisatawan dengan kata lain Gunung Bromo selalu dipenuhi oleh pengunjung baik lokal maupun mancanegara dan menjadi tujuan wisata gunung yang paling populer di Indonesia, sampai-sampai Gunung Bromo menjadi icon wisata Jawa Timur hingga dikenal oleh dunia internasional. Nah Ada banyak hal yang menyebabkan mengapa Wisata Gunung Bromo tidak pernah sepi pengunjung, alasanya adalah:

1. Panorama yang Memiliki Nilai Estetika Tinggi

Nah Alasan yang pertama mengapa Wisata Gunung Bromo sangat ramai dikunjungi oleh banyak wisatawan baik yang datang dari lokal (terutama Malang) maupun Turis mancanegara adalah karena keindahan alam yang disajikan memang luar biasa. Selain itu, Gunung Bromo yang memiliki rata-rata ketinggian sekitar 2329 M di atas permukaan laut dianggap sakral karena sering digunakan untuk upacara adat suku yang terkenal yaitu suku tengger.

Pemandangan alamnya yang sangat luar biasa mampu menarik perhatian para wisatawan, cuaca yang sejuk serta dingin, membuat para pengujung semakin betah dan segala penat lelah terbayarkan dengan suasana yang indah ditambah udara yang sejuk.

2. Sangat Mudah di daki, Terutama Bagi Hiker Pemula

Salah satu yang menjadi alasan selanjutnya yaitu Wisata Gunung Bromo adalah mudah di daki, apa maksutnya? Lain halnya dengan gunung-gunung lain yang membutuhkan pengalaman khusus dan peralatan mendaki yang lengkap, gunung bromo tidak seperti itu, bahkan pendaki pemula atau yang belum pernah mendaki pun bisa sampai ke puncak gunung bromo dengan mudah, tidak perlu skill dan pengalaman khusus untuk mendaki Gunung Bromo, anda hanya cukup dengan bekal niat dan kemauan yang keras untuk bisa sampai ke puncak bromo atau kawah bromo, bisa juga dijadikan latihan untuk pendaki pemula yang ingin belajar mendaki.

3. Akomodasi dan Transportasi Mudah

Gunung Bromo sendiri bisa dicapai dari 4 lokasi utama yaitu melalui Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Pasuruan, dan Kabupaten Malang. Dari ke semua lokasi tersebut, kabupaten Malang merupakan salah satu tempat yang paling  dekat jaraknya dengan Gunung Bromo yaitu berjarak sekitar  kurang lebihnya 54 km.

Di kota Malang itu sendiri, ada banyak travel agent yang menyediakan Paket Wisata Bromo yang memberikan jasa khusus untuk berwisata ke bromo, mulau dari transportasi, konsumsi, penginapan, fasilitas mendaki hingga paket spot menarik. Biasa nya penyedia paket wisata bromo itu sendiri menyewakan mobil beserta driver dan siap mengantarkan anda berwisata ke  gunung Bromo.

Selain menggunakan agen paket wisata bromo, anda juga bisa menggunakan kendaraan pribadi seperti sepedah motor dan mobil, akan tetapi jika kesana sendiri teman teman juga mengurus semuanya sendiri, tidak seperti jika menggunakan agen yang semua fasilitas tersedia, nah jika anda yang ingin rombongan ke Gunung Bromo tapi tidak memiliki kendaraan pribadi mobil anda bisa menggunakan jasa sewa mobil, ada begitu banyak penyedia jasa sewa mobil yang bisa anda gunakan, namun saran penulis disini agan yang belum pernah ke bromo sebaiknya jangan pergi sendiri, agan bisa mengajak teman-teman yang pernah ke Bromo atau agan bisa menggunakan agen paket wisata bromo agar lebih nyaman, efektif dan efisien.

4. Terdapat Lautan Pasir yang Luas

Lautan pasir ini yang ada di sekitar kawasan Gunung Bromo tercipta dari hasil Erupsi gunung Lautan pasir yang ada di sekitar Gunung Bromo membentang sangat luas hingga kurang lebih 15 km2. Lautan pasir tersebut tampak sangat unik, bayangkan ada lautan pasir di ketinggian, terlebih jika mengingat bahwa kawasan Gunung Bromo berada di ketinggian.

5. Terdapat Padang Savana Bromo yang indah dan Mempesona

Selain terdapat hamparan luas padang pasir, ternyata di Gunung Bromo juga terdapat hamparan padang rumput yang hijau segar,  terlihat begitu indah dan mempesona.

Padang rumput yang cukup luas ini merupakan hal yang unik, tidak semua tempat di Indonesia memiliki padang rumput yang seindah laksana di eropa atau seperti di film teletubies, nah anda bisa menemukan di kawasan gunung bromo, tidak perlu jauh jauh ke Eropa, cukup pergi ke bromo anda bisa mendapatkan suasana yang mempesona, apalagi untuk para photographer, gunung bromo adalah surganya.


Writer: Afrizal Setyo


[galery] Foto Panorama SunriseCamp Gunung Sindoro


Satu foto yang saya dapat, ketika mendaki gunung Sindoro July 2018 lalu. Foto panorama di SunriseCamp ketika rekan pendaki lain banyak yang summit ke puncak, sehingga area ini sepi.

Foto sekitar pukul 09.30 WIB, maklum jika kualitas gambar mungkin kurang bagus karena hanya menggunakan HP Xiaomi Note 4x.

Untuk catatan perjalanan ke Gunung Sindoro, silahkan baca DISINI.

Dibawah ini yang Versi Panorama (belum mencapai 360°). Klik untuk ukuran penuh, 1.71 MB.


Pendakian Gunung Sindoro Sumbing via Kledung Juli 2018 (part 2)


Selamat datang di gubuk digitalku yang mungkin sama sekali tidak mewah ini, tapi sebisa mungkin saya isi dengan konten-konten menarik dan bermanfaat bagi siapa saja yang berkunjung. Hey There..! Kali ini saya pengen share sedikit pengalaman pendakian gunung Sindoro dan Sumbing. Oh iya, sebelumnya sudah saya tulis cerita part 1 nya, untuk yang belum baca langsung saja KLIK DISINI (PART 1).

Pendakian Gunung Sindoro via Kledung. Setelah sebelumnya melakukan pendakian Gunung Sumbing, dan sampai basecamp Sindoro sekitar pukul 3 Sore. Kami lalu beristirahat sejenak untuk kemudian mandi membersihkan badan (karena kotor habis bergelut dengan Engkol-engkolan Gunung Sumbing :v) dan kemudian kami sholat Jama’ Takhir Dhuhur dan Ashar.

Tiket Pendakian Gunung Sindoro via Kledung (1)
Tiket Pendakian Gunung Sindoro via Kledung (2)

Di sela-sela istirahat, kami juga melakukan registrasi, mendaftarkan diri membeli tiket masuk pendakian. Per orang dikenakan biaya masuk pendakian sebesar 10K dan untuk biaya MCK, Charger, dan penitipan barang 5K, dan untuk parkir sebesar 5K permotor. Kami bertiga dengan 2 motor, walhasil menghabiskan 55K untuk semua keperluan simaksi. Tiket pendakian dikeluarkan oleh Perum Perhutani, seharusnya kami mendapatkan 3 tiket, namun hanya diberi 1 tiket untuk satu rombongan. Saya mempertanyakan hal tersebut ke petugas, katanya Tiket dari perhutani sedang kehabisan stok, walaupun sebenarnya agak janggal, namun kami tidak memperpanjang perihal itu. Kamipun melanjutkan mempersiapkan segala kebutuhan pendakian, peralatan, logistik, dll.

Peta Pendakian Gunung Sindoro via Kledung
Peraturan Pendakian Gunung Sindoro via Kledung

Membawa Bekal Nasi Dari Basecamp

Kami berencana mulai pendakian sehabis maghrib dan dengan sisa-sisa tenaga yang ada kami tidak mau direpotkan untuk memasak nasi, dll ketika sampai tempat kamp. Akhirnya kami memesan nasi bungkus untuk nantinya dimakan diatas setelah tenda terpasang, sehingga bisa segera istirahat. Warung makan berada di depan basecamp.

Ketika adzan maghrib terdengar, kami segera sholat jama’ ta’dzim Maghrib Isya’, setelah itu mengecek persiapan yang telah kami lakukan. Setelah semuanya siap kamipun memulai perjalanan sekitar pukul 7 Malam. Kami sengaja tidak menggunakan Ojek, karena menurut informasi jalur sindoro dari basecamp ke pangkalan akhir ojek tidak terlalu jauh dan jalan lebih enak.

Jalan dari basecamp menuju pos 1 melalui pekarangan dan kebun milik warga. Jalan sudah ditata dengan tatanan batu khas pedesaan dan tidak terlalu menanjak. Sangat nyaman bila dilalui malam hari, namun jika melewatinya siang hari akan terasa sangat panas. Kamipun menikmati perjalanan malam diselimuti bintang-bintang 😀

Pos 1 Yang Terlewatkan

Perjalanan dari basecamp ke pos 1 sekitar 60 menit, dan dari pos1 ke pos pertengahan 30 menit (perjalanan malam, dengan langkah kaki konsisten).

Pos 1 Gunung Sindoro via Kledung merupakan bangunan kayu yang sudah tidak ditempati lagi, kurang terawat dan terdapat beberapa sampah. Bahkan ketika itu kami melewatinya, kami tidak menyadari bahwa itu sebuah pos karena memang gelap malam hari dan sangat sepi. Ketika sampai di pertengahan Pos 1 dan Pos 2 (Pangkalan Ojek Terakhir), sekitar pukul 20.30 WIB, kami bertemu dengan beberapa tukang ojek dan mengira bahwa itu pos 1, ternyata memang bukan. Pos satu sudah terlewatkan.

Di Pos pertengahan, kami istirahat sejenak dan kemudian melanjutkan perjalanan. Sangat sepi, dingin, tidak bertemu pendaki lain karena memang sudah malam.

Menemui Korban Kecelakaan Kaki Terkilir

Diperjalanan menuju pos2, kami berpapasan dengan beberapa motor yang sedang mengefakuasi dua orang wanita yang kakinya terkilir ketika melakukan Summit Attack pulang dari Puncak Sindoro, bahkan sampai kakinya diangkat keatas dan seperti di gips dengan alat seadanya. melihat kondisi wanita itu sangat memprihatinkan, apalagi proses evakuasi yang memakai motor trail dengan kondisi jalur perjalanan yang berliku dan bergelombang. Malam hari pula, yang menambah suasana semakin payah. Semoga kondisinya lekas membaik dan bisa beraktifitas seperti sedia kala.

Perjalanan dari pos pertengahan hingga pos2 memakan waktu 1 jam. Disini menjadi titik persoalan, karena kata bapak tukang ojek, hanya 15 menit, tapi nyatanya 4x lipat! -_- . Yaa mungkin untuk menyemangati saja. Sampai di pos 2 sekitar pukul 11 malam, kami istirahat sejenak.

Di pos 2 kami mulai merasakan kuwalahan, sisa tenaga sudah hampir habis karena sebelumnya melakukan pendakian ke Sumbing. Oksigenpun berebut dengan pepohonan karena memang sudah larut malam, dingin mulai menerka jika langkah kaki tidak ada. Namun, disini kami masih punya tekat untuk paling tidak sampai di pos3 atau di SunriseCamp untuk mendirikan tenda sesuai rencana awal.

Di pertengahan pos2 dan pos3, sekitar pukul 23.30 WIB kami menemukan sebuah latar datar yang bisa untuk mendirikan hanya 1 tenda, sangat sepi. Rekan saya sudah tidak bisa dipaksakan lagi untuk melanjutkan perjalanan karena sudah terlampau lelah. Akhirnya kamipun mendirikan tenda disitu. Tidak ada rekan pendaki lainnya, karena memang bukan tempat camp resmi. Rencana mendirikan tenda di sunrisecamp kami batalkan demi keselamatan.

Setelah tenda berdiri, kami merapikan barang untuk tempat tidur dan makan bekal nasi yang kami bawa. Susu hangat dan kopi panas seakan mengerti kebutuhan kami saat itu, menghangatkan, menyegarkan.

Sekitar pukul 00.30 kamipun terlelap.

Melanjutkan Perjalanan ke SunriseCamp

Paginya, kami terbangun dengan tenaga yang lumayan segar. Rencana kami hendak melanjutkan perjalanan ke sunrisecamp dan tidak memaksakan diri untuk mencapai puncak. Rekan saya bernama Bim ternyata masih merasakan lelah yang teramat sangat dan kaki yang sudah tidak bisa diajak kompromi untuk saat itu. Akhirnya saya dan rekan saya IK yang melanjutkan perjalanan.

Dari tempat kami mendirikan tenda hingga ke pos3 sekitar 45 menit. Ternyata memang masih lumayan jauh juga, sehingga bukan keputusan yang keliru kami tidak memaksakan diri. Di pos3 ada banyak rekan pendaki yang mendirikan tenda, tetapi rata-rata kosong ditinggal penghuninya melakukan summit ke puncak. Kami tidak berhenti lama di pos3 untuk melanjutkan perjalanan ke SunriseCamp yang hanya berjarak 10 menit. Di Sunrisecamp juga ada banyak tenda berdiri disana, namun sekali lagi terlihat sepi karena kebanyakan sedang summit ke puncak. Hanya ada beberapa rekan pendaki yang tinggal di tenda karena memang kondisi yang tidak memungkinkan.

Puncak Hanyalah Sebuah Bonus

Kami sampai di SunriseCamp sekitar pukul 9.30 Pagi. Sempat terfikir untuk melanjutkan perjalanan ke puncak (summit), namun kami mengurungkan niat karena rekan kami, BIM, berada di tenda menunggu. Saya dan Ik pun hanya mencapai sunrisecamp dengan berbagai pertimbangan tidak melanjutkan perjalanan. Sejenak berfoto dan menikmati pemandangan yang tidak kalah indah dari Puncak Gunung Sumbing. Memang, tidak ada gunung yang tidak istimewa.

Karena Tuhan punya cara-Nya sendiri untuk menampakkan Kebesarannya

View Hunung Sumbing dari SunriseCamp Gunung Sindoro
SunriseCamp Gunung Sindoro dan Jalur Summit Attack menuju puncak (sebelah kanan)

Di Sunrisecamp juga terlihat beberapa gunung tetangga, Sumbing, Merapi, Merbabu, Lawu terlihat dengan jelas. Nampaknya disini memang benar adanya diberi nama SunriseCamp karena jika pagi hari saat fajar beranjak terlihat, akan sangat bagus dan agung keindahan yang disajikan.

Dari kiri -> Lawu, Merbabu, Merapi, Sumbing

Beranjak Pulang

Walau kami tidak menggapai puncak sindoro, namun perjalanan kami sama sekali tidak sia-sia. Setelah menghabiskan beberapa waktu di SunriseCamp, kamipun turun. Sesampainya di tenda, kami masak untuk mengganjal perut dan memasang hammock untuk menikmati suasana tenang di ketinggian.

Memasang Hammock untuk menikmati suasana.

kami turun dari tenda sekitar pukul 12.30 selepas makan dan packing. Di Pos 2 kami berhenti sejenak dan membeli ES Nutrisari, lumayan untuk membasahi tenggorokan. Karena di tim kami tidak ada yg merokok, yaa jajananpun kami libas 😀

Sesampainya di pos pertengahan pangkalan ojek, kami berhenti sejenak dan menikmati semangka yang sangat segar, berukuran cukup besar dengan harga 10K dapat 3. Semangka di ketinggian benar-benar segar, seperti yang saya rasakan di Gunung Slamet beberapa waktu lalu. Dingin alami, manis dan melepas dahaga. Diwarung tersebut juga menyediakan berbagai jajanan.

Semangka di Pos Pertengahan Gunung Sindoro

Dari sini kami putuskan untuk berjalan saja sampai basecamp, mengingat biaya ojek yang menurut kami sebagai anak kuliahan terasa mahal, dan juga ingin menikmati perjalanan. Ternyata memang benar, view dari Pos 1 menuju basecamp dangat memanjakan mata. Terbentang perkebunan warga dan gunung Sumbing yang menjulang tinggi. Jalananya pun nyaman untuk dilalui, bebatuan tertata rapi dan untungnya matahari tidak leluasa memanasi langkah kami karena ada awan yang menghalangi.

View Perkebunan Warga Dari Pos 1 menuju Basecamp Gunung Sindoro

Sesampainya di basecamp sekitar pukul 3 sore, kamipun beristirahat sejenak dan mempersiapkan barang untuk pulang.


Demikian perjalanan pendakian Gunung Sindoro (part 2 ini) dan Sumbing (part 1). Walau kami tidak mencapai puncak, namun Allah selalu menjawab doa hambanya, kami dapat pulang dengan selamat karena memang itu tujuan utama. Bukan hanya itu, kami diberikan cuaca yang sangat bersahabat, tidak mendung juga tidak terlalu panas. Alhamdulillah.. Semoga sedikit cerita ini bisa menjadi pengingat saya pribadi di kemudian hari, syukur bisa memberi sedikit informasi kepada siapapun yang sedang membaca ini.

Bagaimana Kisah Perjalanannmu..? Ceritakan di kolom komentar ya..! 😀

Salam Lestari, Bawa Turun Sampahmu..!


Catatan Pendakian Gunung Sumbing Sindoro Juli 2018 (part 1)


Lebaran tahu ini, Syawal 1439H / 2018M menjadi lebaran yang sedikit berbeda dengan biasanya, karena saya sendiri diberikan nikmat sebuah cobaan untuk beristirahat total dirumah tepat mulai h-2 hingga beberapa hari setelah lebaran. Keadaan ini juga membuat saya sedikit khawatir jika rencana untuk melakukan pendakian ke SUSI (Sumbing Sindoro) tidak terlaksana, bukan hanya karena sakit yang diderita namun juga terkait izin orang tua.

Namun, alhamdulillah saya diberikan nikmat lebih sehingga saya cepat pulih dan melakukan aktivitas seperti biasa, serta bisa ‘membayar’ silaturrahim ke karib, saudara yang sempat tertunda di awal-awal lebaran. Keadaan tubuh saya semakin pulih sehingga orang tua ‘memberanikan diri’ untuk memberikan saya izin melakukan pendakian. Ini menjadi penting, karena dalam setiap perjalanan peran doa dan ridlo orang tua itu sangat mempengaruhi proses jejak langkah kedepan, bukan hanya soal pendakian tetapi juga dalam setiap kegiatan.

Ok, Saatnya membahas ke topik inti.

Pendakian Ke SUSI (Sumbing Sindoro)

Saya bersama tim, awalnya 4 orang sebut saja Ar, Jik, Ul, dan Ik yang merupakan tim pendakian ke Gunung Slamet tahun lalu merencanakan pendakian awal bulan Juli. Namun karena sedikit kendala, maka kita jadinya bertiga, si Jik dan Ul tidak bisa ikut dan akhirnya tinggal Saya (Ar), Ik, dan Bim.

Saya tinggal di Purwokerto, Ik dan Bim tinggal di cilacap. Maka disepakati bahwa meet point kita berada dirumah saya sendiri agar lebih enak untuk beristirahat dan cenderung lebih dekat ke bascame SUSI. Ditentukan tanggal berkumpul adalah tgl 1 Juli guna mempersiapkan segala sesuatunya, agar besoknya tgl 2 Juli pagi-pagi bisa langsung berangkat ke basecamp kledung.

Berangkat Pagi-Pagi

Seperti tahun kemarin ketika ke slamet, kami mempersiapkan dan packing barang2 1 hari sebelum berangkat dan dari rumahku (meet point) berangkat pagi-pagi sehingga sampai basecamp siang hari dan bisa langsung memulai pendakian agar sore hari / petang sudah sampai area camp dan bermalam disana.

Kami menyewa beberapa peralatan pendakian yang belum kami punya di depan basecamp sindoro, agar beban ketika perjalanan memakai motor tidak terlalu berat. Kami menuju basecamp sindoro terlebih dahulu karena tempat penyewaan ada didepannya (namanya Mbak Wasini), sampai disana sekitar pukul 11.30 WIB. Kami bersiap-siap packing ulang dan memastikan keperluan mencukupi serta tidak terlalu banyak. Barang yang tidak dibawa ke Sumbing, kami titipkan.

Memulai dari Sumbing

Kami memulai pendakian mulai dari sumbing, karena menurut berbagai macam sumber, Gunung Sumbing memiliki trek yang lebih berat dari pada Sindoro. Ini bertujuan agar masih awal tenaga masih kuat, ambil dulu yang lebih berat untuk selanjutnya menuju Sindoro yang cenderung lebih ringan agar bisa menggunakan ‘sisa-sisa’ tenaga.

Peta Pendakian Gunung Sumbing

Kami memulai pendakian ke Sumbing jam 13.30 WIB dan memakai ojek seharga 25K, mengingat untuk menghemat waktu dan tenaga untuk dipakai besoknya di sindoro. Benar saja, jarak antara basecamp ke pos 1 sangat jauh dan menanjak, lebih parahnya merupakan jalan bebatuan yang cenderung lebih panas dan membuat cepat capek. Jika berjalan, sekitar 2 jam jalan. Memakai ojek sekitar 20 Menit. Karena ngojek, sesampainya pos 1 kami langsung mengambil beberapa foto dan langsung berangkat.

Benar saja, trek setelah pos 1 Sumbing langsung menanjak, walau jalannya masih nyaman untuk ditapaki. Jalan antara pos 1 dan pos 2 masih nyaman dan teduh karena masih banyak pohon yang menyelimuti. Sesampainya di POS 2, kami istirahat sejenak dan melanjutkan perjalanan ke pos 3.

Di POS 2 terdapat warung yang menyediakan berbagai macam jajanan dan Minuman panas / dingin. Juga tersedia mendoan (jika tidak kehabisan 😀 ).

Engkol-engkolan: Bukan tempat orang-orang manja

Setelah pos 2, baru akan terasa bagaimana rasa sebenarnya dari Sumbing. Engkol-engkolan, Bukan tempat orang-orang manja. Ya, benar saja. Ini merupakan trek yang tersulit dari sumbing, ketika kami disana sedang musim kemarau, penuh dengan debu yang bahkan bisa menenggelamkan sebagian kaki. Sangat berdebu ketika kemarau dan mungkin akan sangat licin jika musim hujan. Jalan yang extreem menanjak, tidak ada pohon tindang yang meneduhkan. Panas sengatan matahari langsung menyapa kulit kita. Sangat disarankan menggunakan masker dan kacatama untuk melindungi hidung dan mata dari debu.

*Video Engkol-engkolan Gunung Sumbing, from izhoer07 (ig)

Trek extreem ini lumayan panjang, bahkan lebih panjang dari Tanjakan Setan yang ada di gunung buthak. Perlu kesabaran dan semangat yang tinggi, manajemen nafas harus ditata dengan benar, serta jangan terlalu banyak minum karena hanya akan menambah beban lutut kita semakin berat. Minumlah secukupnya, membasahi tenggorokan dan dahaga, jangan berlebih serta jangan terlalu sering. Jika capek, jangan dipaksakan, berhenti sejenak dan atur nafas, setelah nafas stabil dapat dilanjutkan kembali.

Jika ada orang turun gunung di engkol-engkolan akan semakin parah, karena debu yang bertebaran akan semakin banyak. Jangan putus asa di engkol-engkolan, karena setelah itu akan mendapatkan sesuatu yg spesial.

View Cakep sebelum POS 3

Setelah melalui lika liku engkol-engkolan, jalur pendakian menjadi lebih bersahabat dengan kaki dan hidung serta mata kita. Bahkan, ada bonus yang ‘wah’ disini jika sobat semua sampai ketika sore hari / menjelang senja. Ya! Melihat mentari berada disamping Gunung Sindoro membuat lelah perjalanan seakan terbayarkan.

View sesudah melewati engkol-engkolan sebelum POS 3

Tempat ini berada di sebelah kanan (waktu naik) dan cenderung tidak kelihatan. Rekan saya Ik yg menemukannya ketika hendak beristirahat sejenak.

Berspose manja dengan sang Mentari

Pemandangan awan yang meliuk-liuk mesra dan mentari yang menampakkan indahnya, menikmati samudra awan yang seakan kasur tempat tidur, sungguh menawan. Namun, mungkin gambar yg dihasilkan di foto2 kurang mengena karena kualitas kamera HP yang apa adanya.

Sampai di POS 3

Tidak lama setelah itu, sekitar 10 menit kami sampai di POS 3 ketika pukul 17.00 WIB ketika matahari sedang bersiap-siap untuk terlelap di ufuk barat sana. Pemandangan di pos 3 pun amat indah, mega merah dan angin dingin namun sejuk menemani kami dan menyapu keringat hingga tidak tersisa lagi.

Pemandangan Sunset di POS 3 Gunung Sumbing

Di Pos 3 kami banyak berjumpa dengan pendaki lain dan banyk pula tenda yang sudah berdiri. Sambil menikmati senja, kami bertiga mulai menata barang dan mendirikan tenda di pos 3. Untuk area camp, bisa di POS 3 atau di atasnya pos 3 (naik sedikit lagi sekitar 5 menit).

Pemandangan Sunset di POS 3 Gunung Sumbing

Selesai mendirikan tenda dan barang-barang sudah tertata, mulailah langit menjadi gelap. Kami mulai banyak ngobrol sesama pendaki dari berbagai daerah dan mulai memasak nasi serta menyeduh susu dan kopi. Menikmati pahitnya kopi, serta manisnya susu ditengah dinginnya suasana membuat saat itu semakin terasa syahdu. Kami memasak sarden untuk lauknya agar lebih cepat matang (karena sudah terlalu lapar, hehe). Setelah semua matang, kami menyantap lahap-lahap.

Masakan ala kadarnya, yg penting kenyang dulu 🙂

Setelah kenyang perut terisi, malam dan dingin semakin menjadi. Kami mulai bersiap untuk beristirahat. Namun sebelum itu, perlu bersyukur kepada Allah atas segala kelancaran perjalanan hingga titik ini. Sholat Isya dan Maghrib di jama’ qoshor agar menghemat persediaan air ketika wudlu, juga supaya tidak kedinginan lebih lama 😀

Beruntung tenda samping ada yang membuat perapian, sehingga bisa untuk bergabung dan berbagi kehangatan. Sekitar pukul 9 malam pun, ditemani berjuta bintang, kami mulai terlelap.

Pendakian Dinihari (Walau Molor hingga Jam 4 Pagi)

Kami berencana untuk melakukan Summit Attack (Perjalanan ke Puncak) jam 3 pagi untuk mengejar munculnya Sang Mentari. Saya mulai bangun jam 2 an pagi, lebih karena kedinginan, namun 2 rekan saya masih terlelap. Saya langsung membuat susu dan kopi panas untuk menghangatkan badan, juga pemancing rekan saya agar bangun. Setelah itu, kami memasak mie untuk mengganjal perut sebelum pendakian agar terhindar dari maag. Tetek bengek, dan jadilah kami siap memulai pendakian jam 4 Pagi.

Jalan setelah pos 3 juga menanjak dan berdebu, walau tidak terlalu parah seperti engkol-engkolan karena masih pagi dan dingin. Banyak rekan pendaki lain yang juga melakukan summit attack. Melalui jalan berbatu (pasar watu) dan berkelok, serta menanjak harus dilalui. Ditengah perjalanan sekitar jam 5, kami mencari tempat landai untuk sejenak melaksanakan Sholat Subuh. Berwudlu dengan sedikit air yang dibawa (asalkan rukun wudlu terpenuhi) dan sholat bergantian, karena tempat hanya bisa dipakai 1 orang, beralaskan rain cover karena lupa tidak membawa sajadah.

Pemandangan Pagi di sekitar pasar watu Gunung Sindoro

Perjalanan dari POS 3 menuju puncak sekitar 3 jam. Dengan disuguhi pemandangan luar biasa indah, serta disamping kiri-kanan terdapat pohon Edelweish nan indah, boleh dilihat, boleh diraba, namun tidak boleh di ambil / dipetik karena merupakan bunga yang dilindungi. Jika sobat semua nekad memetik edelweish dan tertangkap kamera, siap-siap saja menerima ancaman pidana, dan lebih parahnya juga mendapat bully bertubi-tubi dari nitizen Indonesia :D.

Bunga Edelweis Gunung Sumbing
Beristirahat Sejenak

Karena kami telat berangkat dari POS 3, akhirnya tidak bisa menyapa mentari keluar dari timur, namun masih bisa menikmati indah pesona cahayanya, berbaur dengan embun pagi dan angin rindu. Di setiap perjalanan ini, gunung Sindoro selalu menemani dibelakang seakan berseru supaya terus melaju.

Kami sampai puncak sekitar pukul 7 Pagi (perjalanan dari pos 3 ke puncak, 3 jam) dan sudah mulai terang, namun pemandangan yang disuguhkan tetaplah mempesona.

Yaa! Beginilah perjuangan menggapai tinggi yang tak pernah membuat sakit hati.

Lelah capek pegal semua terbayar dengan begitu indahnya ciptaan Tuhan.

Samudra Awan Puncak Gunung Sumbing
Kawah Gunung Sumbing
Pemandangan Gunung Sindoro dari Puncak Gunung Sumbing

Beranjak Pulang

Setelah beberapa kali menikmati suasana dan mengambil beberapa foto, kami turun dari puncak sekitar pukul 8. Seperti biasa, perjalanan turun cenderung lebih cepat dari pada naik, sekitar 2 kali lebih cepat. Di perjalanan pulang ini, perlu diperhatikan untuk tidak terlalu banyak membuat debu dengan berselancar di atas tumpukan debu, karena akan mengganggu pendaki lain. Cukup berjalan dengan hati-hati, sesekali berlari jika memungkinkan.

Pemandangan Pos 3 dari Atas Pasar Watu

Kami sampai tenda sekitar jam 9.30 WIB dan langsung menyiapkan masakan. Masak nasi, tempe tepung, dan sosis, juga telur. Setelah itu beristirahat sejenak serta ngobrol ramah tamah dengan pendaki dari daerah lain, untuk kemudian mulai turun jam 12 siang.

Sama dengan waktu berangkat, turunpun kami harus melewati engkol-engkolan yang berdebu.

Menikmati mendoan di POS 1

Sekitar pukul 2 kami sampai di POS 1 dan langsung merebahkan badan, serta memesan mendoan untuk asupan. Kami turun menggunakan ojek, sekali lagi untuk efisiensi tenaga dan waktu untuk melakukan pendakian selanjutnya ke Gunung Sindoro. Juga karena perjalanan turun merupakan perjalanan terberat bagi lutut dan betis, mengingat beban badan lebih berat ditopang. Kalo kata iklan si, Jalan Kaki = 2 kali, Naik tangga = 3 kali , turun tangga = 5 kali berat badan, sama halnya dengan pendakian.

Sampai di Basecamp Sumbing, kami langsung menuju pos Kledung Sindoro untuk melaksanakan Sholat Dhuhur Ashar Jama’ dan kemudian beristirahat disana juga mempersiapkan barang untuk pendakian selanjutnya.

Alhamdulillah, perjalanan pendakian Gunung Sumbing lancar tanpa halangan suatu apapun, cuaca bersahabat dan bisa turun dengan selamat.


Demikian perjalanan Ke SUSI (Sumbing Sindoro) part 1, semoga bisa menjadi catatan perjalanan yang akan saya kenang di esok hari, dan terlebih bisa menjadi gambaran sobat bagaimana medan dan suasana disana.

Bagaimana pendapat anda..? Ada kesan atau pertanyaan, silahkan tinggalkan jejak di kolom komentar.

Selanjutnya, perjalanan ke Gunung Sindoro Lanjut ke Post Berikutnya yaaa.. Langsung Saja KLIK DISINI (Part 2)! 😀