Santri Ngaji 12 Maret 2018. Kitab Nashaihul Ibad membahas mengenai Keutamaan Adab yang harus didahulukan sebelum ilmu.

Sebagai pencari ilmu, maka tugas utamanya ya menuntut ilmu. Mengejar Ilmu, Memancing Ilmu, Memburu Ilmu, hingga kemudian jika sudah didapatkan maka mengikat ilmu agar ilmu itu tidak lepas begitu saja. Bagaimana cara mengikat ilmu..? Yaitu dengan tulisan. Semoga tulisan ini juga sebagai media pengikat ilmu yang barusan saya dapatkan.

Namun, dalam menuntut ilmu juga ada tata cara dan runtutannya. Jika anda seorang santri, maka sudah mafhum dan biasanya salah satu ilmu yang pertama kali diajarkan sebelum ilmu-ilmu yang lain adalah perihal adab. Ta’lim wal muta’alim adalah salah satu kitab akhlaq yang biasa diajaran di hampir seluruh pesantren di Indonesia.

Ini menandakan betapa adab / akhlaq sangat penting bagi setiap insan, apalagi seorang santri.

Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al Bantani yang memuat banyak hal terkait kehidupan, memahami arti sebuah hidup, tasawuf, nasehat agama, tak lupa didalamnya juga membahas perihal Akhlaq. betapa pentingnya akhlaq diatas ilmu.

Hadis tentang akhlaq

Di Halaman 43 Kitab Nashoihul ‘Ibad terbitan darul ilmi dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

سوءالخلق شؤم، و شراركم أسوأكم خلقا

“Jeleknya akhlak adalah sebuah kenistaan. Dan sejelek-jeleknya kamu semua adalah yang lebih jelek akhlak nya”

Hadis diatas menerangkan bahwa akhlaq yang jelek menjadikan seseorang menjadi sejelek-jeleknya manusia. Juga diterangkan bahwa sangking pentingnya sebuah akhlak bagi setiap manusia, seseorang yang tidak mempunyai akhlak dianggap sebagai tidak mempunyai sama sekali kemulyaan.

ولاسؤددلسيئ الخلق

“Tidak ada kemulyan bagi manusia yang tak mempunyai akhlaq”

Nashoihul Ibad - Dahulukan Adab Daripada Ilmu

Nashoihul Ibad – Dahulukan Adab Daripada Ilmu

Anda tau pepatah “Nila setitik, rusak susu sebelanga“..? Nampaknya pepatah itu sudah ada sejak zaman dulu sudah dibahas oleh para ulama, namun dalam bingkai membahas keutamaan akhlaq. Perhatikan kalimat berikut:

إن الخلق السيئ يفسد العمل كما يفسد الخل العسل

“Sesungguhnya Akhlak yang tercela akan merusak keutamaan Ilmu, Sebagaimana cuka yang merusak manisnya madu”

Para kyai sesepuh dan para ulama, nampaknya sudah begitu faham dengan pentingnya akhlak. Terlihat dari hampir setiap pesantren mengedepankan “unggah-ungguh” atau akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga  Berani Sombong itu Tidak Baik

Menghormati guru, sungkem, selalu “sendiko dawuh” dalam menjalankan setiap apa yang kiai sampaikan, dan berbagai macam mutiara akhlak ditanamkan kepada setiap santri di pondok pesantren.

Lalu, seberapa baik sudah akhlak kita..?

Disini jangan disalah artikan bahwa Ilmu dan Adab itu berseberangan, tidak sama sekali. Justru ilmu tidak akan bisa lengkap tanpa adab, untuk bisa beradab pun perlu menggunakan ilmu. Semua saling melengkapi.

Namun perlu disadari, bahwa jika ingin menikmati manisnya madu, hilangkan dulu cuka di mulutmu. Akhlak yang jelek bagai cuka, Ilmu bagai madu. Tak akan bisa menuai manisnya ilmu, tanpa baik akhlakmu.

Sembari memperbanyak ilmu, memperbaiki akhlak. Insyaallah tak ada yang sia-sia segala doa, apa yang terselip kata semoga.


Sekian apa yang bisa saya bahas disini. Sebenarnya, saya hanyalah penyambung lidah dari apa yang saya dapat dari setiap guru yang dengan kelembutan hati, mendidik dan mengajarkan ilmu.

nb: Silahkan tinggalkan komentar apa bila ada kesalahan / kekurangan. Kritik dan saran yang membangun dapat menjadikan setiap orang memperbaiki diri.

Semoga bisa bermanfaat…

Salam Hangat, ardan7779.