Jika anda seorang manusia, dan anda sedang membaca ini, maka seharusnya anda faham siapa anda sebenarnya, kenapa dinamakan manusia, dan mengapa anda hidup di dunia.

Manusia a.k.a Man Nasia (Man, utawi sapane wong. iku Nasia, lali sopo man) atau jika diterjemahkan ke dalam bahasa negara kita, menjadi Orang itu Lupa. Mengapa kita sering lupa..? karena memang itulah takdirnya.

الانسان محل الخطا و النسيان

“Sesungguhnya, manusia itu tempatnya salah dan lupa”

Lupa, bisa berarti sebuah musibah jika hal-hal yang kita lupakan adalah sebuah nikmat. Nikmat ilmu, nikmat hafalan, nikmat ibadah. Kita lupa akan nikmat-nikmat itu.. Sebuah musibah. Ilmu yang ternyata lama-kelamaan lupa terkikis, habis. Hafalan yang semakin hari tak bertambah, malah yang sudah didapatkan justru lupa, bubrah.. Ibadah yang semakin dewasa justru semakin lupa, hilang entah kemana.. Sungguh sebuah musibah.

Namun, lupa juga bisa berupa anugrah jika hal-hal yang dilupa merupakan sebuah hal yang tidak berfaedah, bahkan menyakitkan, atau sebuah kemaksiatan. lupa akan sebuah kenangan buruk yang menimpa, mimpi buruk, kabar keluarga / kerabat meninggal, duka, kecelakaan, bertemu setan.. Atau mungkin melupakan sekian banyak kenangan yang sejatinya indah, tetapi karna diri tak sanggup menerima sebuah kabar yang tak diinginkan, sudah sebuah kenikmatan jika kenangan-kenangan itu LUPA, terbawa arus deras dari masa ke masa.. Sungguh sebuah kenikmatan jika LUPA itu demikian.

Lalu, mengapa tulisan ini sampai kepada anda..? Sebuah media yang mungkin tidak memberikan banyak hal kepada anda. Jika anda sudah membaca sampai sini, mohon lanjutkan hingga titik akhir tulisan ini.

Media ini dibuat dengan menyadari, bahwa penulis ini (saya) adalah manusia biasa. MAN NASIA, yang sering lupa dan tidak sempurna. Bertujuan untuk mengikat hal-hal positif yang sejatinya tidak pantas untuk dilupakan. Ilmu, Hafalan, Catatan Ngaji, Opini yang saya ikat dengan tulisan digital, dan semoga bisa bermanfaat bagi masyarakat luas dengan jangkauan yang tak terbatas.

قَيِّدُوا الْعِلْمَ بِالْكِتَابِ

“Ikatlah ilmu dengan dengan menulisnya”

[ Silsilah Ash-Shahiihah no. 2026 ]

Sesuatu yang (berpotensi) manfaat, itu perlu diikat. Termasuk ilmu. dan mengikat ilmu adalah dengan menuliskannya.

Baca Juga  Sujiwo Tedjo: Tangga menuju Tuhan adalah kepalamu, maka letakkan kepalamu dibawah telapak kakimu

Namun sayangnya, walaupun manusia itu pelupa, ada beberapa hal ingatan yang tak bisa hilang dengan sendirinya.

Terkadang, perlu ada semoga untuk bisa lupa.

Dan tentu, media ini semoga tidak akan menjadi media pengingat sesuatu yang seharusnya dilupakan. Walau memang, terkadang kita sangat ingin melupakan sesuatu, justru malah kita ingat-ingat sesuatu itu dan berfikir bagai mana cara menghilangkan ingatan itu. Mengingat ingat sesuatu guna mengetahui bagaimana caranya untuk melupakan ingatan itu..? Lucu sekali.


Terakhir, saya hanyalah seorang hamba. Tak ada yang istimewa, bahkan mungkin masih tak pantas jika dibilang biasa saja.

Penuh kekurangan, keterbatasan. Mampuku hanya sebatas usaha dan doa. Usaha yang takperlu meminta untuk kau lihat, doa yang takusah perlu untuk kau dengar.

Satu lagi, Allah tak mungkin keliru dalam menjawab setiap doaku.

Apr’ 03 2017, ardan7779.