Doa dalam Al Qur’an, Al Kahfi ayat 10 serta keutamaannya.


Selamat berhari Jumat, wahai Ummat Nabi Muhammad SAW.. Ada beberapa amalan di Hari Jumat yang Berkah ini yang bisa kita lakukan, salah satunya berdoa kepada Allah SWT karena memang Hari Jumat merupakan salah satu waktu yang baik dan mustajab untuk berdoa.

Doa yang terkandung didalam al Qur’an adalah salah satu doa yang paling mustajab. Salah satunya doa ini, yang terdapat dalam surat al kahfi ayat 10. Dari maknanya saja sangat mengena. Bagaimana kita memohon kepada Sang Pencipta petunjuk yang lurus dan rahmat dalam aktifitas / urusan kita. Sehingga, setiap jengkal langkah dan keputusan yang kita ambil, Insyaallah merupakan yang terbaik dari-Nya.

Ketika dulu sempat sowan kepada pengasuh PP. Sunan Pandanaran, beliau KH. Mu’tashimbillah meyampaikan bahwa seorang pencari ilmu harus memiliki suatu amalan yang istiqomah ia laksanakan, paling tidak membaca doa tsb. Dibaca setiap ba’da sholat rowatib sebanyak minimal 3 kali. (Kurang lebih, Insyaallah redaksinya seperti itu).

Al Kahfi ayat 10

رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا

“Ya Tuhan kami. Berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah petunjuk yang lurus bagi kami dalam urusan kami.” (Sura Al-Kahf, Ayah 10)

Ketika pelajaran Abah Yasin (salah satu guru sesepuh) di Pondok Pesantren Al Hikmah pun, beliau menyampaikan pentingnya doa itu.

Beberapa Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi di Hari Jum’at

Bahwa ganjaran bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada malam Jum’at atau pada siang harinya akan diberikan cahaya (disinari). Dan cahaya ini diberikan pada hari kiamat, yang memanjang dari bawah kedua telapak kakinya sampai ke langit. Dan hal ini menunjukkan panjangnya jarak cahaya yang diberikan kepadanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala:

يَوْمَ تَرَى الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ يَسْعَى نُورُهُمْ بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَبِأَيْمَانِهِمْ

“Pada hari ketika kamu melihat orang mukmin laki-laki dan perempuan, sedang cahaya mereka bersinar di hadapan dan di sebelah kanan mereka.” (QS. Al-Hadid: 12)

Balasan kedua bagi orang yang membaca surat Al-Kahfi pada hari Jum’at adalah berupa ampunan dosa antara dua Jum’at. Dan bisa jadi inilah maksud dari disinari di antara dua Jum’at. Karena nurr (cahaya) ketaatan akan menghapuskan kegelapan maksiat, seperti firman Allah Ta’ala:

إن الحسنات يُذْهِبْن السيئات

“Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk.” (QS. Huud: 114)

Surat Al-Kahfi dan Fitnah Dajjal

Manfaat lain surat Al-Kahfi yang telah dijelaskan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah untuk menangkal fitnah Dajjal. Yaitu dengan membaca dan menghafal beberapa ayat dari surat Al-Kahfi. Sebagian riwayat menerangkan sepuluh yang pertama, sebagian lainnya keterangan lagi sepuluh ayat terakhir.

Imam Muslim meriwayatkan dari hadits al-Nawas bin Sam’an yang cukup panjang, yang di dalam riwayat tersebut Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Maka barangsiapa di antara kamu yang mendapatinya (mendapati zaman Dajjal) hendaknya ia membacakan atasnya ayat-ayat permulaan surat al-Kahfi.”

Dalam riwayat Muslim yang lain, dari Abu Darda’ radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

“Barangsiapa yang membaca sepuluh ayat dari permulaan surat al-Kahfi, maka ia dilindungi dari Dajjal.” Yakni dari huru-haranya.

Imam Muslim berkata, Syu’bah berkata dalam Shahih Muslim, Kitab Shalah al-Mufassirin, Bab; Fadhlu Surah al-Kahfi wa Aayah al-Kursi: 6/92-93,

“Dari bagian akhir surat al-Kahfi.” Dan Hammam berkata, “Dari permulaan surat al-Kahfi.”

Imam Nawawi berkata, “Sebabnya, karena pada awal-awal surat al-Kahfi itu tedapat/ berisi keajaiban-keajaiban dan tanda-tanda kebesaran Allah. Maka orang yang merenungkan tidak akan tertipu dengan fitnah Dajjal”. Demikian juga pada akhirnya, yaitu firman Allah:

أَفَحَسِبَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنْ يَتَّخِذُوا عِبَادِي مِنْ دُونِي أَوْلِيَاءَ

“Maka apakah orang-orang kafir menyangka bahwa mereka (dapat) mengambil hamba-hamba-Ku menjadi penolong selain Aku? . . .” QS. Al-Kahfi: 102. (Lihat Syarah Muslim milik Imam Nawawi: 6/93)

Semoga kita diberi kekuatan dalam menjalani cobaan, dan diberi rahmat dalam setiap kegiatan.

Hari Jum’at, jangan lupa membaca Surat Al Kahfi nya, minimal 10 ayat pertama 🙂


Jazaakumullahu khoiran katsiiraa.

Salam hangat, ardan7779.


Viral Video Santri Dituduh Teroris..?


Viral Video Santri Dituduh Teroris..? Bukan, Hanya pengamanan.

Beberapa saat yang lalu beranda Instagram dan WA Grup Chat saya diramaikan dengan viralnya sebuah video yang menampilkan Anggota Brimob sedang menodongkan senjata ke seorang santri yang nampaknya hendak pulang kampung. Terlihat, santri itu mengenakan sebuah Identitas seorang Santri yaitu mengenakan sarung, baju koko, Berpeci dan membawa tas serta kardus.

Dalam hal ini, saya pribadi merasa sangat jengkel dan gregetan, mengapa sebegitu curiganya petugas menuduh aneh-aneh kaum sarungan seperti itu, mengingat saya juga terbiasa kemana-mana juga mengenakan sarung bahkan terkadang dalam perjalanan jauh sekalipun.

Apakah polisi tersebut berlebihan dan kurang ajar..?

Sama sekali tidak.

Disini kita sebagai kaum santri, sudah belajar akhlaq dan tata krama sejak lama harus bisa menanggapi berbagai kejadian dengan bijak. Kita harus fahami situasinya, bagaimana keadaan yang sedang terjadi.

Kejadian kebiadaban teroris yang belakanngan ini sangat mengguncang Indonesia membuat polisi dan satuan keamanan negara memperketat keamanan, bukan untuk apa-apa, melainkan untuk menjamin seluruh warga menjadi aman.

Santri Harus Tanggapi Dengan Kepala Dingin, Dengan Bijak.

Video seperti ini sudah sepantasnya tanggapi dengan kepala dingin dan bijaksana, Kalau disuruh buka, tinggal buka aja, karena sekarang waktu ya harus mewaspadai kemungkinan yang ada. Para aparatur negara baik polisi maupun TNI melakukan tindakan seperti itu bukan berarti mereka benci atau sinis terhadap santri maupun yang lainnya melainkan untuk menjaga keamanan.

Jadi tanggapi dengan lebih bijaksana dan kepala dingin tentunya, jangan sampai kita juga malah membenci terhadap para polisi ataupun TNI. Kalau kita sampai membenci kepada mereka berarti misi dari teroris berhasil yaitu mengadu domba bahkan saling membenci antara umat beragama, antara satu dengan yang lainnya.

So mari kita respon dengan hal yang lebih bijaksana, kita buktikan kepada para teroris bahwa apa yang mereka inginkan tidak akan mungkin terjadi di negeri yang kita cinta ini.

Ayo sebarkan dan buktikan bahwasanya kita sebagai warga negara, terlebih sebagai santri yang sudah sekian lama mengaji tidak akan terpancing oleh tindakan para teroris, apa itu? Yaitu perbuatan saling membenci ataupun saling Mengadu domba

Polisi dan TNI sama sekali tidak menaruh curiga berlebih kepada santri.

Yang polisi dan TNI lakukan adalah melaksanakan tugasnya sebagai pengaman setiap warga. Bahkan, selepas kejadian penggeledahan santri tersebut, polisi dan brimob justru berpelukan dengan kang santri dan kemudian ngopi bareng. Seperti yang disebutkan oleh akun Twitter @Banser_CyberNU

 

Santri Ngopi dengan Brimob pasca penggeledahan.

Selain itu, terkait video yang mengundang banyak respon tersebut juga sudah diklarifikasi pihak terkait bahwa tidak ada yang perlu dibesar-besarkan, apalagi sampai menimbulkan permusuhan atau kebencian terhadap aparat. Aparat disini tidak ada yang berlebihan, hanya menjaga keamanan. Bahkan, pasca penggeledahan Kang Santri justru diberi bekal untuk perjalanan. 😀

Klarifikasi dari pihak terkait yang di upload akun instagram @nahdlatululama

Jadi, stay kalem yaa..

Kami santri kaum penuntut ilmu, ilmu yang menebarkan Islam perdamaian. Monggo disruput kopine

Allahumma ij’al hadzal baldah Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafuur.

Amiiin


Demikian apa yang seharusnya dilakukan. Tetap tenang dan waspada, namun jangan sampai timbul kebencian terhadap sesama warga negara.

Disadur dari opini pribadi dan beberapa opini teman dan karib saya.

Salam Hangat, ardan7779.


Nashaihul ‘Ibad: Dahulukan Adab Daripada Ilmu


Santri Ngaji 12 Maret 2018. Kitab Nashaihul Ibad membahas mengenai Keutamaan Adab yang harus didahulukan sebelum ilmu.

Sebagai pencari ilmu, maka tugas utamanya ya menuntut ilmu. Mengejar Ilmu, Memancing Ilmu, Memburu Ilmu, hingga kemudian jika sudah didapatkan maka mengikat ilmu agar ilmu itu tidak lepas begitu saja. Bagaimana cara mengikat ilmu..? Yaitu dengan tulisan. Semoga tulisan ini juga sebagai media pengikat ilmu yang barusan saya dapatkan.

Namun, dalam menuntut ilmu juga ada tata cara dan runtutannya. Jika anda seorang santri, maka sudah mafhum dan biasanya salah satu ilmu yang pertama kali diajarkan sebelum ilmu-ilmu yang lain adalah perihal adab. Ta’lim wal muta’alim adalah salah satu kitab akhlaq yang biasa diajaran di hampir seluruh pesantren di Indonesia.

Ini menandakan betapa adab / akhlaq sangat penting bagi setiap insan, apalagi seorang santri.

Dalam kitab Nashaihul Ibad karya Syekh Nawawi al Bantani yang memuat banyak hal terkait kehidupan, memahami arti sebuah hidup, tasawuf, nasehat agama, tak lupa didalamnya juga membahas perihal Akhlaq. betapa pentingnya akhlaq diatas ilmu.

Hadis tentang akhlaq

Di Halaman 43 Kitab Nashoihul ‘Ibad terbitan darul ilmi dijelaskan bahwa Nabi Muhammad SAW bersabda:

سوءالخلق شؤم، و شراركم أسوأكم خلقا

“Jeleknya akhlak adalah sebuah kenistaan. Dan sejelek-jeleknya kamu semua adalah yang lebih jelek akhlak nya”

Hadis diatas menerangkan bahwa akhlaq yang jelek menjadikan seseorang menjadi sejelek-jeleknya manusia. Juga diterangkan bahwa sangking pentingnya sebuah akhlak bagi setiap manusia, seseorang yang tidak mempunyai akhlak dianggap sebagai tidak mempunyai sama sekali kemulyaan.

ولاسؤددلسيئ الخلق

“Tidak ada kemulyan bagi manusia yang tak mempunyai akhlaq”

Nashoihul Ibad – Dahulukan Adab Daripada Ilmu

Anda tau pepatah “Nila setitik, rusak susu sebelanga“..? Nampaknya pepatah itu sudah ada sejak zaman dulu sudah dibahas oleh para ulama, namun dalam bingkai membahas keutamaan akhlaq. Perhatikan kalimat berikut:

إن الخلق السيئ يفسد العمل كما يفسد الخل العسل

“Sesungguhnya Akhlak yang tercela akan merusak keutamaan Ilmu, Sebagaimana cuka yang merusak manisnya madu”

Para kyai sesepuh dan para ulama, nampaknya sudah begitu faham dengan pentingnya akhlak. Terlihat dari hampir setiap pesantren mengedepankan “unggah-ungguh” atau akhlak terpuji dalam kehidupan sehari-hari.

Menghormati guru, sungkem, selalu “sendiko dawuh” dalam menjalankan setiap apa yang kiai sampaikan, dan berbagai macam mutiara akhlak ditanamkan kepada setiap santri di pondok pesantren.

Lalu, seberapa baik sudah akhlak kita..?

Disini jangan disalah artikan bahwa Ilmu dan Adab itu berseberangan, tidak sama sekali. Justru ilmu tidak akan bisa lengkap tanpa adab, untuk bisa beradab pun perlu menggunakan ilmu. Semua saling melengkapi.

Namun perlu disadari, bahwa jika ingin menikmati manisnya madu, hilangkan dulu cuka di mulutmu. Akhlak yang jelek bagai cuka, Ilmu bagai madu. Tak akan bisa menuai manisnya ilmu, tanpa baik akhlakmu.

Sembari memperbanyak ilmu, memperbaiki akhlak. Insyaallah tak ada yang sia-sia segala doa, apa yang terselip kata semoga.


Sekian apa yang bisa saya bahas disini. Sebenarnya, saya hanyalah penyambung lidah dari apa yang saya dapat dari setiap guru yang dengan kelembutan hati, mendidik dan mengajarkan ilmu.

nb: Silahkan tinggalkan komentar apa bila ada kesalahan / kekurangan. Kritik dan saran yang membangun dapat menjadikan setiap orang memperbaiki diri.

Semoga bisa bermanfaat…

Salam Hangat, ardan7779.


Menengok Dunia, Memandang Akherat.


Dalam Menilai Duniamu, Tengoklah Kebawah. Namun Menilai Akheratmu, Mendongaklah keatas.

Jika kita merasa hidup kurang nikmat, atau selalu dilanda musibah yang begitu berat, kita perlu memperbaiki cara kita dalam menyikapinya hidup itu sendiri.

Berbicara mengenai soal dunia yang begitu banyak gemerlapnya, memang selalu menggiurkan didepan mata. Memiliki apa yang kita harapkan, menjadi apa yang kita idamkan. Manusia memang selalu memiliki keinginan.

Bagi seorang muslim, berbicara perihal akherat juga sangat penting. Mengharap keselamatan sesudah dikebumikan, mendapat kenikmatan abadi yang sudah dijanjikan dalam Al Qur’an, atau sekedar terhindar dari siksa api neraka yang menyakitkan.

Lantas..? Bagaimana agar kita tidak resah ketika hidup didunia .?

Ketika kita menghitung apa yang sudah kita dapat, seperti materi dunia, harta, kesehatan, dan lain sebagainya, maka tengoklah saudara-saudara kita sesama manusia yang statusnya ada dibawah kita dalam hal dunia.

Tengoklah kebawah. Kepada mereka yang tidak seberuntung kita mendapat apa yang sudah kita dapat. Rezeki, kesehatan jasmani dan rohani, dan lain sebagainya. Seberapa buruk nasib kita, masih ada yang lebih dibawah. Bukan berbangga diri, namun untuk sekedar mensyukuri.

Namun.

Dalam melihat perihal akhirat, mendongaklah keatas. Seberapa alim dan rajin ibadahnya kita, pasti masih ada yang lebih diatasnya.

Ketika melakukan kebaikan atau ibadah, jangan melihat kebawah kepada orang2 yang belum melakukan. Nanti malah bisa berbangga diri dan merasa puas dengan apa yang sejatinya belum apa-apa. Mendongaklah keatas, lihat mereka salafunasholih yang begitu taatnya, sehingga kita termotivasi untuk lebih baik dan lebih baik lagi.

Akhirul kalam. Semoga dunia yang kita dapat dan akhirat yang kita panjat, bisa membawa kita menuju Ridlo-Nya.


Disadur dari ngaji pagi Ba’da Shubuh.

Salam hangat, ardan7779.

Jangan sungkan. Tinggalkan komentar jika ada pendapat atau bertanya. Kritik saran yang membangun juga silahkan.


Khutbah Gerhana Bulan Kyai Baidlowi Mushlich tgl 31 Januari 2018


Malang, 31 Januari 2018. Ketika Gerhana Bulan total yang disebut dengan istilah “Super Blue Blood Moon”, Santri Pondok Pesantren Anwarul Huda beserta masyarakat desa Karang Besuki melaksanakan sholat gerhana bulan, atau ‘Khusuful Qomar’ di Masjid Sunan Kalijaga Karang Besuki, Kec. Sukun, Malang.

Dalam khutbah nya, KH. Baidlowi Mushlich yang juga menjadi imam menyampaikan beberapa hal didepan sekitar 300 Jamaah di dalam masjid tersebut.

Beliau mengawali khutbah dengan wasiat taqwa, banyak istighfar dan takbir.

“Matahari dan Bulan merupakan 2 tanda-tanda dari sekian banyak tanda kekuasaan Allah, beredar disepanjang orbit yang sudah ditentukan oleh Allah SWT. Semuanya atas kekuasaan Allah”

“Matahari dan bulan, beredar merupakan keagungan dan kehendak Allah SWT.
Bumipun sebenarnya ini bergerak, sangat cepat. Tapi kita terasa tenang. Kenapa..? Karena bumi sangat besar”

“Seperti halnya kita naik kereta api, cepat. Tapi kita didalam terasa tenang. Yang terlihat berjalan justru lingkungan sekitarnya, diluar kereta.
Begitu juga bumi bergerak cepat, namun kita terasa diam, yang terlihat bergerak justru Matahari, bintang dan bulan. Sebenarnya kita justru yang bergerak, sangat cepat”

“Ketika kiamat hendak tiba, matahari tidak muncul selama 3 hari tiga malam. Manusia seluruhnya bingung. Matahari pergi menghadap Allah SWT, sujud kepada-Nya. Lalu setelah tiga hari itu, matahari disuruh untuk kembali ke tempat semula. Matahari pergi ketika Maghrib, juga kembali 3 hari setelah juga ketika Maghrib. Matahari kembali terbit, namun tidak dari timur melainkan dari barat. Saat inilah, kiamat tiba. Semua amal manusia sudah tidak lagi ada yang diterima. Istighfar, sholat, dll sudah tidak berguna. Ketika matahari sampai di tengah siang, bumi digoncangkan dan gunung diletuskan. Semua kehidupan, musnah”.

‎Beliau juga menjelaskan kehidupan setelah manusia dibangkitkan dari kubur. Dikumpulkan di alam barzah dan menghadap ke Sang Pencipta, Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau melanjutkan dengan menjelaskan manusia mengalami mati 2 kali, dan hidup 2 kali. Mati ketika dulu belum lahir, masih berupa air. Kemudian kehidupan setelah lahir di dunia yang kita rasakan ini. Kemudian mati masuk alam kubur. Kemudian hidup lagi ketika di yaumul akhir hingga akherat.

“Ketika bayi lahir, jangan sampai tidak di adzani dan di iqomahi. Siapa yang meng-adzani..? Ya ayahnya sendiri, atau keluarga. Walaupun bayi itu lahir di rumah sakit, jangan sampai tidak di adzani. Adzan ini sebagai imanisasi. Sama halnya dengan imunisasi, agar kebal terhadap penyakit dan kekebalan rubuhnya kuat, imanisasi juga agar jiwanya kuat”.

Beliau juga menjelaskan tentang keutamaan Gerhana. Gerhana ini bukan karena ada kematian atau kelahiran seseorang, melainkan merupakan kehendak dan keagungan dari Allah SWT.

“Apabila kalian ummat Islam tau ada kejadian gerhana, maka perbanyaklah ber-istighfar, bacalah takbir, dan bersedekahlah, serta kerjakanlah Sholat”

Beliau menutup rangkaian khutbah dengan kembali berwasiat taqwa kepada Allah SWT. Di khutbah yang kedua, beliau kembali menyampaikan rukun2 khutbah, serta menutup nya dengan doa.

Itulah beberapa point khutbah yang disampaikan romo Kyai Baidlowi Mushlich, semoga bisa menjadikan kita yang membaca menjadi muslim yang lebih baik. Dan rangkaian sholat khusuf tersebut ditutup dengan saling bersalaman antar jama’ah didalam masjid.

Salam hangat, semoga manfaat.
ardan7779.


Hindari Bermuamalah Dengan Orang Yang Tidak Jelas Halal / Haram Rezekinya


Assalamu’alaikum. Alhamdulillah kita masih diberi nikmat tak terhitung nilainya dari Allah SWT.

Saya akan membahas sedikit pengajian Kitab Nashoiduddiniyyah yang diampu oleh Gus Yaqin Pondok Pesantren Anwarul Huda Malang pada Kamis, 14 Desember 2017 Ba’da shubuh.

Dalam bermuamalah, kita sebagai ummat islam akan dapat menemukan 3 golongan yang berbeda-beda yang tentu berbeda dalam menyikapinya. Dan kali ini dibahas terkait golongan yang ketiga, yaitu dengan orang yang sembrono dan tidak menghiraukan harta-hartanya walaupun itu halal / haram, tetap dia ambil.

Kita sebagai orang yang bertaqwa sebaiknya jangan samasekali bermuamalah dengan orang yang sembrono seperti itu, karena bisa jadi kita terciprat harta-harta yang haram dan kitapun akan terkena imbasnya juga.

Jika kita terpaksa bermuamalah dengan orang sembrono ini, maka harus benar-benar hati-hati. Tannyakan dahulu kepada mereka sumber harta yang mereka dapat. Tanyakan dengan santun agar tidak menyakiti hati mereka. Jika memang jelas asal muasal harta tersebut dan halal, maka lanjutkan. Tetapi jika hartanya tidak jelas sumbernya atau bahkan jelas-jelas haram, maka tinggalkan muamalah itu dengan alasan dengan cara yang santun.

Misal, kita diberi hadiah dari seseorang yang mungkin sembrono dalam mendapatkan hartanya. Yang namanya hadiah itu kan memang halal, tetapi sumber hadiah itu yang juga perlu kita perhatikan. Jika sumber hadiah itu misal adalah hasil berjualan tanah milik sendiri, maka halal dan boleh dilanjutkan (kita terima hadiahnya). Namun, jika sumbernya dari hasil menagih hutang yang mengandung bunga (riba), maka sebaiknya dihindari karena riba nyata-nyata haram.

Menjadi persoalan ketika di sebuah negara seperti Indonesia ini, yang sumber pendapatan adalah dari pajak yang sangat beragam sumbernya. Ada yang dari pajak bangunan, kendaraan, dll ini masih tidak masalah dan halal karena memang itu semua tidak melanggar syariat Islam. Tetapi pajak juga ada, bahkan banyak yang bersumber dari proses-proses yang makruh bahkan haram, seperti pajak rokok (Makruh menurut NU, Haram menurut Muhammadiah), Minuman Keras (mutlak haram), dan bahkan tempat-tempat sosialisasi (Seperti Doly yang sudah ditutup) ini juga masuk sebagai anggaran negara.

Al Imam Ibnu Mubarrak Radliyallahu’anhu menjawab persoalan ini.

إن كان لا يعامل إلاالسطان فقط فلا تعامله وإن كان يعامل السلطان ويعامل غيره فعامله

“Jika bermuamalah yang hanya dengan pemerintah saja, maka lebih baik dihindari. Namun, jika bermuamalah tidak hanya dengan pemerintah melainkan juga selain pemerintah maka silahkan dilanjutkan muamalahnya” .

Wallahu a’lam bishowaab..

Allahumma ighfirlana.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarokaaruh.


Al Qur’an Turun Sebagai Wahyu Bagi Nabi Muhammad SAW Secara Bertahap


Al Qur’an Turun Sebagai Wahyu Bagi Nabi Muhammad SAW Secara Bertahap. Dan Penjelasan bertahapnya Ayat Al Qur’an yang mengharamkan kamr dan judi, sehingga bisa diterima oleh kaum Qurays.

Al Qur’an turun dari lauh mahfudz ke Baitul ‘Izzah (langit dunia) secara utuh pada malam lailatul qodar pada bulan Ramadhan, Bulan yang penuh berkah. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surah al Qadr.

إِ نَّآ أَنْزَلْنَهُ فِى لَيْلَةِ الْقَدْرِ

“Sesungguhnya kami Telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan”.

lalu dari Dari langit dunia, disampaikan ke Nabi Muhammad melalui perantara Malaikat Jibril secara bertahap selama 23 tahun terhitung dari pertama sifat Nubuah Nabi Muhammad muncul (ketka berumur 40 tahun) sampai wafatya beliau (ketika berumur 63 tahun). Dan, Al Qur’an turun pertama kali ke Nabi Muhammad SAW, yaitu surah Al Alaq Ayat pertama.

Al Qur’an turun secara bertahap bukan karena alasan, melainkan agar Nabi Muhammad SAW tidak terlalu berat dalam berdakwah, juga agar banyak sahabat yang hafal Al Qur’an serta merupakan strategi penerapan hukum islam kepada kaum kafir agar bisa diterima.

Misal, dalam turunnya ayat yang menerangkan haramnya khamr.

Dahulu, khamr adalah minuman kebanggaan kaum kafir Qurays yang sangat diminati. Bahkan menjadi semacam minuman wajib bagi para petinggi2 Qurays ketika berkunjung ke suatu tempat. “Tak ada khomr..? berarti semacam penghinaan” Kiranya begitu menurut pandangan mereka.

Tingkat 1, tidak langsung mengharamkan, melainkan memberi pemahaman kepada kaum qurays mengenai Khamr dan Judi.

Nah, Namun dulu juga sudah disadari bahwa khamr menimbulkan berbagai macam efek yang tidak baik.
ketika kaum islam yang masih muallaf (Sebelumnya kafir qurays) menanyakan bagaimanakah hukum khamr itu, maka al quran menjawab …

يَسْئَلُوْنَكَ عَنِ اْلخَمْرِ وَ اْلمَيْسِرِ، قُلْ فِيْهِمَا اِثْمٌ كَبِيْرٌ وَّ مَنَافِعُ لِلنَّاسِ، وَ اِثْمُهُمَآ اَكْبَرُ مِنْ نَّفْعِهِمَا، وَ يَسْأَلُوْنَكَ مَاذَا يُنْفِقُوْنَ، قُلِ اْلعَفْوَ، كَذلِكَ يُبَيّنُ اللهُ لَكُمُ اْلايتِ لَعَلَّكُمْ تَتَفَكَّرُوْنَ. البقرة:219

Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah, “Pada keduanya itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya”. Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafqahkan. Katakanlah, “Yang lebih dari keperluan”. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu berfikir. [QS. Al-Baqarah : 219]

Ayat diatas jelas tidak langsung melarang / mengharamkan khamr. Mengapa demikian.? karena supaya dapat diterima kaum Qurays pada saat itu.

Tingkat 2, Melarang sholat ketika sedang dalam keadaan mabuk.

Pada suatu saat ketika sholat, seorang Imam jamaah sholat fardlu lupa dengan bacaan sholatnya karena sedang mabuk meminum khamr. Ketika membaca surah Al Kaafirun, sang Imam lupa menyertakan lafadz “la” sehingga menjadi. “Qul yaa ayyuhal kaafirun, a’buduma ta’budun, wa antum ‘aabidu namaa a’bud”. kesalahan bacaan ini merupakan kesalahan yang sangat berbahaya, mengingat makna bacaannya berbeda 180 derajat dengan Ayat yang benar.

Kejadian ini mengundang keheranan shahabat yang menjadi makmum. akhirnya mereka mengadu pada Rosulullah SAW. ” Yaa Rosul, tadi ada kesalahan bacaan ketika sholat, dikarnakan sang imam sedang mabuk. Sebenarnya, Apakah hukum Khamr dalam Agama Islam.?”. Nah, pada saat itulah turun ayat Al Qur’an Yang menjawab pertanyaan sahabat tersebut.

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْا لاَ تَقْرَبُوا الصَّلوةَ وَ اَنْتُمْ سُكرى حَتّى تَعْلَمُوْا مَا تَقُوْلُوْنَ. النساء:43

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mendekati shalat padahal kamu sedang mabuk sehingga kamu mengerti apa yang kamu ucapkan. [An-Nisaa’ : 43]

Dan, Para sahabatpun menerima hukum yang dibawakan oleh Al Qur’an tersebut. Memang, selepas itu masih banyak juga yang mabuk, walaupun sudah tidak ada yg mabuk sebelum sholat. Mereka mabuk setelah melaksanakan sholat dan berhenti mabuk ketika hendak melaksanakan sholat. Yaa.. Mereka melaksanakan hukum yang dijelaskan oleh Al Qur’an.

Tingkat 3, benar-benar melarang khamr dan judi.

Namun, masih banyak kejadian dan kelakuan yang tidak diinginkan, seperti pembunuhan, pemerkosaan, pencurian dll yang dikarnakan pelaku mabuk. Maka, para shahabat mengadu lagi kepada Rosulullah SAW. “Sebenarnya, apakah hukum Khamr dalam Al Qur’an ?”. Maka baru turunlah ayat yang benar2 melarang meminum khamr

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِنَّمَا اْلخَمْرُ وَ اْلمَيْسِرُ وَ اْلاَنْصَابُ وَ اْلاَزْلاَمُ رِجْسٌ مّنْ عَمَلِ الشَّيْطنِ فَاجْتَنِبُوْهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. اِنَّمَا يُرِيْدُ الشَّيْطنُ اَنْ يُّوْقِعَ بَيْنَكُمُ اْلعَدَاوَةَ وَ اْلبَغْضَآءَ فِى اْلخَمْرِ وَ اْلمَيْسِرِ وَ يَصُدَّكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللهِ وَ عَنِ الصَّلوةِ فَهَلْ اَنْتُمْ مُّنْتَهُوْنَ. المائدة:90-91

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamr, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah perbuatan keji termasuk perbuatan syaithan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan. Sesungguhnya syaithan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian diantara kamu lantaran (meminum) khamr dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan shalat, maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu). [QS. Al-Maidah : 90-91]

Setelah turun ayat yang sangat tegas ini, mereka berkata, “Ya Tuhan kami, kami berhenti (dari minum khamr dan berjudi)”. [HR. Ahmad]

Pada saat itulah para shahabat menerima syariat yang mengharamkan khamr, dan merekapun menerimanya.

 

Sebegitu indah strategi yang dibawakan oleh Nabi Muhammad SAW dalam menyampaikan Syariat Islam. Al Qur’an turun dengan begitu lembut, sehingga bisa diterima oleh para Sahabat pada masa itu yang notabenya masih begitu awwam dan memang sebelum islam datang. mereka terbelenggu dalam kejahiliyahan.

 

Hasil resapan mengaji Nashoihud Diniyyah yang diampu oleh Gus Yaqin, di Pondok Pesantren Anwarul Huda Kota Malang.

 

salam hangat, ardan7779.